Liputan6.com, Jakarta - PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja perusahaan tetap sesuai target di tengah potensi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Upaya tersebut dinilai penting mengingat pergerakan kurs menjadi salah satu faktor eksternal yang dapat memengaruhi biaya operasional perusahaan.
Advertisement
Direktur Utama PT Bach Multi Global Tbk Budi Kurniawan mengatakan, perseroan tidak dapat menghindari risiko yang timbul akibat perubahan nilai tukar. Oleh karena itu, perusahaan memilih melakukan mitigasi melalui kombinasi strategi operasional dan keuangan.
"Kita mitigasinya kalau masalah mata uang sebenarnya itu tidak bisa kita hindarin ya," kata Budi dalam konferensi pers IPO Bach di BEI, Rabu (8/7/2026).
Dia menuturkan, salah satu langkah yang ditempuh perseroan adalah melakukan penyesuaian harga jual produk maupun layanan agar tetap mampu mengimbangi kenaikan biaya yang dipicu pelemahan rupiah.
Selain itu, BACH juga menerapkan strategi lindung nilai (hedging) terhadap eksposur mata uang asing guna mengurangi dampak volatilitas kurs terhadap kondisi keuangan perusahaan.
"Jadi, kita caranya itu pertama mungkin harga jual kita tingkatkan. Yang kedua kita juga dengan melakukan hedging kurs-nya," ujarnya.
Melalui dua strategi tersebut, perseroan berharap dapat menjaga profitabilitas sekaligus memastikan target kinerja tetap tercapai meski kondisi pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian dan pergerakan nilai tukar yang fluktuatif.
BACH Resmi Melantai di BEI
PT Bach Multi Global Tbk dengan kode saham BACH resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada hari ini Rabu (8/7/2026). BACH mencatatkan total 4.084.430.000 saham di BEI.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.469.430.000 saham merupakan milik pendiri, sedangkan 615.000.000 saham berasal dari penawaran umum perdana. Perseroan menetapkan nilai nominal saham sebesar Rp 50 per saham.
Dalam aksi IPO ini, BACH menawarkan saham kepada publik dengan harga Rp 442 per saham. Dengan jumlah saham yang tercatat, perseroan memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 1,805 triliun pada saat pencatatan. Pada perdagangan perdana, saham BACH mendapat respons positif dari investor. Harga saham perseroan naik ke level Rp 550 per saham atau menguat 24,43% dibandingkan harga penawaran umum.
Bach Multi Global Bidik Rp 307,5 Miliar dari IPO
Sebelumnya, PT Bach Multi Global Tbk, perusahaan bergerak di penjualan dan penyewaan genset serta jasa konstruksi menggelar penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) maksimal 615 juta saham ke publik.
Jumlah saham itu setara 15,06% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan nilai nominal Rp 50. Perseroan menawarkan harga saham perdana di kisaran Rp 400-Rp 500. Dengan demikian, dana IPO yang akan diraup maksimal Rp 246 miliar-Rp 307,5 miliar.
Perseroan akan memakai dana IPO sekitar Rp 91,02 miliar untuk pembayaran sebagian utang kepada Bank Permata atas fasilitas pinjaman jangka pendek.
"Sisanya sekitar Rp 213,48 miliar akan digunakan sebagai modal kerja dalam rangka pembelian genset untuk dijual maupun disewakan,” demikian seperti dikutip.
Dalam prospektus, perseroan menyebutkan setiap purchase order atas pembelian genset itu memiliki jumlah berbeda-beda dengan uang muka yang telah dibayarkan pada Januari-Maret 2026 sebesar Rp 18,17 miliar.
Seluruh genset yang dibeli merupakan genset yang dilakukan bertahap mulai Juli 2026 sampai dengan perkiraan Oktober 2026. Hal ini bergantung pada waktu tiba pengiriman genset ke perseroan akan berasal dari kas internal perseroan.
Hingga 2025, perseroan meraup laba tahun berjalan Rp 155,55 miliar dari 31 Desember 2024 sebesar Rp 78,74 miliar. Pendapatan naik menjadi Rp 1,73 triliun pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,24 triliun.
Ekuitas perseroan tercatat Rp 535,95 miliar pada 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 434,01 miliar. Liabilitas naik menjadi Rp 696,67 miliar dari 2024 sebesar Rp 381,59 miliar. Aset perseroan naik menjadi Rp 1,23 triliun pada 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 815,60 miliar.
Terkait kebijakan dividem, perseroan berniat membayar dividen maksimal 50% mulai 2027 berdasarkan dair laba bersih 2026 setelah pelaksanaan IPO. Untuk menggelar IPO ini, perseroan telah menunjuk PT Erdikha Elit Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.