2.000 Tentara AS Bantu Pemulihan Venezuela Pascagempa

Dukungan pasukan AS difokuskan pada pemulihan akses udara dan laut untuk memperlancar pengiriman bantuan ke wilayah terdampak.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 08 Juli 2026, 09:00 WIB
Pasien berada di luar rumah sakit di Catia La Mar, Venezuela, Kamis (25/6/2026), setelah bangunan tersebut rusak akibat dua gempa hebat yang terjadi pada Rabu (24/6) malam. (Dok. AP/Pedro Mattey)

Liputan6.com, Caracas - Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez mengatakan pada Selasa (7/7/2026) bahwa bandara internasional yang rusak akibat dua gempa bulan lalu akan dibuka kembali sesegera mungkin dengan menggunakan landasan pacu alternatif.

Bandara Internasional Simon Bolivar terletak di La Guaira, sebelah utara Caracas, yang menjadi pusat gempa pada 24 Juni. Gempa merobohkan banyak bangunan permukiman dan menewaskan lebih dari 3.500 orang.

Bandara itu telah dibuka sebagian untuk penerbangan bantuan kemanusiaan.

"Saya memerintahkan aktivasi segera rencana alternatif agar penerbangan komersial dapat dilanjutkan sesegera mungkin dengan menggunakan landasan pacu paralel di bandara," kata Rodriguez dalam pesan yang diunggah di akun Telegramnya.

Para penerbang dan ahli militer Amerika Serikat (AS) telah membantu membuka kembali bandara tersebut serta memperbaiki pelabuhan La Guaira yang terdampak gempa untuk membantu pengiriman pasokan dan peralatan.

Berbicara kepada wartawan melalui konferensi telepon, Kuasa Usaha Kedutaan Besar AS John Barrett mengatakan para pejabat AS telah berdiskusi dengan maskapai komersial AS untuk melanjutkan penerbangan.

"Masih ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan terkait infrastruktur untuk mendukung operasi komersial di bandara," katanya, tanpa menyebutkan tanggal pasti.

Kepala Komando Selatan AS Jenderal Francis Donovan mengatakan personel militer AS masih membantu pengendalian lalu lintas udara serta operasi kargo darat di bandara tersebut.

Sekitar 2.000 tentara AS telah dikerahkan di Venezuela untuk membantu upaya penanganan bencana, sementara helikopter dan pesawat AS kerap mendarat di bandara itu.

Kapal Angkatan Laut AS USS Fort Lauderdale juga bersandar di pelabuhan La Guaira untuk membantu pengiriman bantuan.

Hampir dua pekan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,3 dan 7,5 itu, tim penyelamat internasional mulai mengakhiri upaya pencarian korban selamat, sementara keluarga korban menyisir reruntuhan untuk mencari jenazah orang-orang terkasih mereka.

Ribuan orang kini kehilangan tempat tinggal dan tidur di tenda-tenda di luar bangunan yang hancur atau di kamp sementara bagi warga yang mengungsi.

"Mereka menjarah supermarket, jadi supermarket itu tidak buka lagi," kata Estefany Suarez, seorang ibu dengan dua anak kecil yang kini tinggal di tenda.

"Saya berharap bisa tetap tinggal di La Guaira. Saya tidak ingin berakhir di salah satu kamp."

Dua hari setelah gempa, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sebanyak 50.000 orang masih belum diketahui keberadaannya, meski pemerintah belum memberikan perkiraan jumlah orang hilang.

Sebelum bencana terjadi, Venezuela telah bergulat dengan krisis ekonomi dan gejolak politik yang membuat infrastruktur serta layanan kesehatan melemah.

Rodriguez berkuasa pada Januari setelah presiden saat itu, Nicolas Maduro, diculik dalam operasi militer AS di Caracas.

PBB memperkirakan gempa menyebabkan kerusakan senilai US$ 6,7 miliar, setara dengan enam persen produk domestik bruto (PDB) Venezuela, negara produsen minyak utama.

Badan pengungsi PBB mengatakan pihaknya membutuhkan sekitar US$ 14,85 juta untuk meningkatkan dukungan perlindungan, barang-barang bantuan, dan tempat tinggal sementara bagi 30.000 orang terdampak gempa selama enam bulan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya