Piala Dunia 2026 yang Dikepung Aroma Politik

Piala Dunia 2026 diwarnai berbagai kontroversi bernuansa politik, mulai dari delegasi Iran hingga kasus Folarin Balogun.

oleh Asad ArifinDiterbitkan 07 Juli 2026, 21:15 WIB
(Kiri/Kanan) Presiden AS, Donald Trump, memperhatikan saat menerima Hadiah Perdamaian FIFA (FIFA Peace Award) dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia 2026 yang berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko, di Kennedy Center, Washington, DC, pada 5 Desember 2025. (Brendan SMIALOWSKI/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 menghadirkan banyak pertandingan menarik di atas lapangan. Namun, di balik jalannya turnamen, muncul sejumlah kontroversi yang memunculkan dugaan adanya campur tangan politik dalam beberapa keputusan penting.

Sorotan tidak hanya datang dari hasil pertandingan, tetapi juga dari berbagai kebijakan yang melibatkan FIFA. Mulai dari persoalan delegasi Iran hingga keputusan terkait Folarin Balogun menjadi bahan perbincangan publik.

Situasi tersebut membuat FIFA kembali dipertanyakan soal komitmennya menjaga netralitas. Padahal, badan sepak bola dunia itu memiliki aturan yang melarang campur tangan politik dalam urusan sepak bola.

Hubungan Presiden FIFA, Gianni Infantino, dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga ikut menjadi perhatian. Sejumlah peristiwa selama Piala Dunia 2026 membuat kedekatan keduanya kembali disorot.


Statuta FIFA Tegas, tetapi Kontroversi Terus Bermunculan

Berdiri di samping Trofi Piala Dunia, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan pidato pada pertemuan musim dingin Konferensi Walikota AS pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Infantino mempromosikan Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menyoroti potensi manfaatnya bagi kota dan komunitas tuan rumah. (Alex Wong/Getty Images via AFP)

FIFA selama ini memiliki aturan yang tegas mengenai campur tangan politik. Organisasi tersebut bahkan beberapa kali menjatuhkan sanksi kepada federasi yang dianggap mendapat intervensi dari pemerintah.

Pakistan menjadi salah satu contohnya. Dalam delapan tahun terakhir, negara tersebut sudah tiga kali menerima sanksi dari FIFA karena masalah campur tangan pemerintah terhadap federasi sepak bolanya.

Namun, situasi di Piala Dunia 2026 justru memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi penerapan aturan tersebut. Hubungan dekat Gianni Infantino dengan Donald Trump menjadi salah satu alasan yang memicu perdebatan.

Saat pengundian Piala Dunia 2026, Infantino bahkan menyerahkan penghargaan perdana FIFA Peace Award kepada Trump. Momen itu mendapat kritik dari banyak pihak. FIFA dinilai tidak perlu memberikah penghargaan khusus untuk Trump.


Kasus Iran dan Balogun Menambah Sorotan

Pemain Amerika Serikat Folarin Balogun melakukan selebrasi aksi setelah mencetak gol pertama timnya selama pertandingan sepak bola babak 32 besar Piala Dunia antara Amerika Serikat dan Bosnia di Santa Clara, California, dekat San Francisco, Rabu, (01/07/2026). (AP Photo/Julio Cortez)

Kontroversi mulai muncul sejak awal turnamen. Sejumlah staf teknis Iran dikabarkan tidak mendapat izin masuk ke Amerika Serikat, sementara rombongan tim juga sempat mengalami kendala terkait akomodasi.

Masalah lain muncul ketika wasit asal Somalia, Omar Artan, ditolak masuk ke Amerika Serikat oleh petugas imigrasi. Menanggapi kasus tersebut, Infantino hanya berkata singkat, "Tenang saja."

Sorotan terbesar kemudian datang dari keputusan FIFA yang menangguhkan hukuman kartu merah Folarin Balogun. Keputusan itu membuat penyerang Amerika Serikat tersebut tetap bisa tampil di babak 16 Besar meski sebelumnya mendapat kartu merah langsung.

Keputusan tersebut diumumkan tanpa penjelasan rinci. Kondisi itu, ditambah pengakuan Donald Trump bahwa dirinya telah berbicara dengan Infantino terkait kasus Balogun, semakin memunculkan pertanyaan mengenai transparansi dan konsistensi FIFA selama Piala Dunia 2026.

Sumber: BBC Sport

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya