Liputan6.com, Jakarta - Moderator di acara pertemuan Microbe ASM menyebutkan adanya penyebaran infeksi jamur yang menyeramkan. Yang dimaksud adalah infeksi kulit menular seksual yang semakin resisten terhadap obat.
Dikutip dari Science News, Selasa (7/7/2026), seorang ahli mikologi medis maju ke mimbar dan menjelaskan tentang penyakit dari jamur yang menyerang kucing, menyebabkan luka yang mengeluarkan cairan dan yang lebih parah, menular ke manusia.
Advertisement
Penyakit baru ini dinilai sangat mengerikan. Pasalnya, infeksi yang disebabkan Sporothrix Brasiliensis ini telah membunuh ribuan kucing dan menginfeksi lebih dari 11,000 orang dan setidaknya 200 anjing di Amerika Selatan sejak kemunculannya di Brazil pada tahun 1990.
Jamur ini sudah menyebar ke luar Brazil, menyerang kucing, anjing dan manusia di Paraguay, Chile, Argentina dan yang terbaru Uruguay.
“Hanya perlu menunggu waktu sampai penyakit ini menyerang AS,” ujar ahli mikologi medis, Shawn Lockhart.
Ia khawatir jamur ini menyebar ke kota besar seperti Istanbul dan Bangkok sebab banyak kucing berkeliaran bebas di sana. “Hanya butuh satu orang dari Amerika Selatan yang membawa kucingnya, fungus itu bisa menyebar di manapun,” ucap Lockhart.
Apabila infeksi pada kucing tidak ditangani menggunakan obat antijamur, ini dapat berkembang menjadi penyakit pernapasan dan menyebar ke seluruh tubuh.
“Tanpa diobati, tingkat fatalnya 100 persen. Bahkan setelah diobati pun tingkat fatalitasnya masih tinggi,” jelas Lockhart.
Apabila terjadi kepada manusia, jamur ini akan menyebabkan luka pada kulit. Jika tidak ditangani, bisa menyebabkan kematian.
Penularan penyakit ini tidak dapat diketahui dengan cepat. Pasalnya, gejala tidak langsung muncul. Dua anggota keluarga asal Inggris yang baru saja pindah dari Brazil tertular tiga tahun setelah kepindahannya. Ternyata, kucing mereka terinfeksi Sporothrix Brasiliensis. Bahkan dokter hewan yang menanganinya juga ikut tertular.
Selayaknya jamur yang tumbuh di tanah lainnya, jamur Sporothrix bersifat dimorfik yang artinya memiliki dua bentuk. “Dia (jamur Sporothrix) adalah jamur pada suhu dingin dan ragi pada makhluk hidup,” kata Lockhart. Jamur ini tumbuh sebagai filamen panjang dan berserabut yang dikenal sebagai hifa di dalam tanah, tapi kemudian berubah menjadi ragi sel tunggal ketika sporanya menginfeksi manusia atau hewan.
Lockhart berkata sebagian besar infeksi jamur terjadi ketika spora dihirup atau dalam kasus petani mawar, ketika spora masuk ke kulit melalui goresan dan luka tusukan akibat duri mawar. Namun, S Brasiliensi bisa menyebar dalam bentuk ragi. Hal ini tidak terjadi pada jamur dimorfik lainnya.
Perilaku kucing seperti menggigit, menjilat dan bertengkar menjadikan faktor kenapa mereka lebih rentan terinfeksi jamur tersebut.
Cara terinfeksi aneh lainnya adalah melalui bersin. Saat kucing bersin, ragi yang terinfeksi bisa keluar dan menyebar di udara.
Selain itu, aliran ingus dari hidung kucing juga dapat menimbulkan bahaya bagi manusia dan kucing lain setelah kucing yang terinfeksi meninggalkan ruangan.
Jika ada bagian yang terlewatkan saat dibersihkan oleh para dokter hewan, kegigihan jamur ini dapat menulari pasien lain. Kabar baiknya, jamur tersebut dapat dimusnahkan dengan pemutih dan etanol.
Tidak ada tes yang diiklankan untuk mengetahui kucing terinfeksi S. brasiliensis. Penyakit ini susah terdeteksi karena tidak tersedia sertifikat dari dokter hewan yang menyatakan bahwa kucing tersebut sehat.
Karena dokter hewan-lah yang mungkin menjadi pihak pertama yang menyadari keberadaan jamur tersebut di negara baru, Lockhart mendesak para profesional kesehatan hewan peliharaan untuk melapor ke laboratorium kesehatan masyarakat setempat jika mereka mulai menemui kasus sporotrikosis.