Rupiah Ditutup Melemah Lagi, Sentimen Fitch Jadi Penekan

Kurs rupiah ditutup melemah ke 17.995 per dolar AS pada Senin (6/7/2026). Sentimen negatif dari Fitch Ratings dan defisit neraca dagang membebani rupiah.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 Juli 2026, 20:10 WIB
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (6/7/2026). Rupiah turun 32 poin atau 0,18% ke level 17.995 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di 17.963 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan. JISDOR tercatat berada di level 17.999 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya 17.960 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran investor setelah lembaga pemeringkat Fitch Ratings merilis laporan terbaru mengenai kondisi ekonomi Indonesia.

"Fitch Ratings dalam laporan terbarunya memberi pandangan mendalam mengenai rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia, yang terlihat dari indikator pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga arus modal keluar yang masif. Namun demikian, perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Menurut Ibrahim, laporan tersebut memicu sentimen negatif di pasar karena menyoroti meningkatnya risiko terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Tekanan yang Berkepanjangan

Petugas menata mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ibrahim menjelaskan Fitch Ratings juga memperingatkan tekanan yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan beban utang dan biaya pinjaman pemerintah. Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar risiko penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia.

Sebagai informasi, pada Maret 2026 Fitch masih mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB, namun prospeknya telah direvisi menjadi negatif.

Selain sentimen dari Fitch, pelaku pasar juga mencermati data neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat defisit sebesar US$ 1,61 miliar pada Mei 2026. Angka tersebut mengakhiri tren surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.

Dari sisi global, pergerakan rupiah juga dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik. Konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memanas menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Turki.

Di saat yang sama, ketidakpastian mengenai pembahasan antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz juga masih menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya