Liputan6.com, Teheran - Ketika delegasi Arab Saudi melangkah maju untuk memberi penghormatan di depan peti jenazah mendiang mantan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei di Grand Mosalla, Teheran, lantunan ayat Al-Qur'an terdengar setelahnya.
Ayat yang dibacakan adalah Ali Imran 3:13, bagian yang menggambarkan Perang Badar, ketika pasukan muslim yang jauh lebih sedikit dan kurang persenjataan mengalahkan pasukan yang jauh lebih besar "atas kehendak Allah".
Advertisement
Perang Badar terjadi pada 624 M di wilayah yang kini menjadi Arab Saudi. Pembacaan ayat ini berlangsung dalam rangkaian penghormatan kepada Ali Khamenei, yang dihadiri delegasi Arab Saudi dan sejumlah perwakilan negara lain.
Arab Saudi bukan satu-satunya negara yang hadir. Lebih dari 100 delegasi datang untuk memberikan penghormatan kepada almarhum.
Kehadiran para pejabat tinggi menjadi salah satu cara Iran menunjukkan bahwa negara tersebut tidak sepenuhnya terisolasi, meski terus berada di bawah tekanan AS dan Israel.
Ali Khamenei gugur pada 28 Februari dalam serangan Israel dan AS terhadap kediamannya di pusat Teheran. Serangan itu ikut menewaskan putrinya, cucu perempuannya yang berusia 14 bulan, menantu laki-lakinya, dan menantu perempuannya.
Jenazah Ali Khamenei disemayamkan selama tiga hari di Grand Mosalla, kompleks salat terbesar di Teheran yang juga kerap menjadi lokasi acara kenegaraan besar.
Pemakaman Ali Khamenei tidak hanya menjadi prosesi keagamaan, tetapi juga panggung politik negara. Melalui prosesi tersebut, Iran berupaya menunjukkan kepada publiknya bahwa negara masih mampu menghimpun rakyat dalam duka; meyakinkan sekutu bahwa Teheran tidak goyah; serta menyampaikan kepada para pesaingnya bahwa Iran tetap mencatat posisi setiap pihak selama perang.
Mengutip Middle East Eye, pemilihan ayat yang dibacakan untuk tiap delegasi dalam prosesi penghormatan ini dinilai menunjukkan adanya semacam hierarki dalam cara Iran memetakan kawan, mitra, dan pihak yang dianggap berseberangan.
Poros Perlawanan Dibingkai Sebagai Kemenangan
Untuk Hamas, Jihad Islam Palestina, Hizbullah, Houthi, Hashd al-Shaabi Irak, dan Taliban di Afghanistan, ayat-ayat yang dipilih memiliki benang merah yang sama: kesyahidan, keteguhan dalam menjalankan keyakinan, dan kemenangan.
Hamas disambut dengan Surah Al-Ahzab ayat 23, sebuah ayat tentang orang-orang yang setia pada janji mereka kepada Allah. Dalam ayat ini, sebagian digambarkan telah memenuhi janjinya (gugur sebagai martir), sebagian lain masih menunggu giliran (siap melanjutkan perjuangan), dan tidak satu pun mengubah komitmennya.
Ayat tersebut dapat dibaca sebagai cara menempatkan Hamas dalam narasi keteguhan dan pengorbanan.
Untuk Hizbullah, ayat yang dibacakan adalah Surah Ali 'Imran ayat 139–140, yang memuat pesan agar orang-orang beriman tidak merasa lemah atau bersedih. Ayat ini turut menyinggung kedudukan orang-orang beriman yang tinggi dan bagaimana Allah mempergilirkan masa kejayaan serta penderitaan di antara manusia untuk memilih para syuhada (gugur sebagai martir).
Dalam konteks ini, kemunduran militer tidak ditampilkan semata sebagai kekalahan. Ayat tersebut memberi ruang bagi pembacaan bahwa ujian, kehilangan, dan pengorbanan merupakan bagian dari proses yang lebih besar untuk menunjukkan siapa yang tetap setia.
Untuk Houthi Yaman, ayat yang dipilih adalah Surah Al-Fath ayat 29. Ayat ini menggambarkan orang-orang yang bersama Nabi Muhammad sebagai sosok yang tegas terhadap musuh, tetapi saling berkasih sayang di antara sesama mereka.
Dalam konteks ini, Houthi ditempatkan dalam gambaran gerakan yang keras terhadap lawan, tetapi solid di dalam. Pesan yang muncul adalah ketegasan menghadapi musuh berjalan beriringan dengan persatuan internal.
Hashd al-Shaabi Irak mendapat ayat tentang orang-orang yang gugur di jalan Allah. Ayat ini menegaskan bahwa mereka yang gugur di jalan Allah tidak mati, melainkan tetap hidup, meski keberadaan mereka berada di luar jangkauan pemahaman manusia biasa.
Sementara itu, Jihad Islam Palestina dan Taliban sama-sama dibacakan bagian pembuka Surah Al-Fath, yang menyebut tentang "kemenangan yang nyata". Dalam ayat tersebut, kemenangan digambarkan sebagai karunia Allah yang membawa pengampunan atas kesalahan masa lalu dan masa depan, sekaligus penyempurnaan nikmat-Nya.
Penggunaan ayat yang sama untuk dua kelompok berbeda dinilai menunjukkan bahwa keduanya ditempatkan dalam posisi yang berdekatan dalam cara pandang Iran. Jihad Islam Palestina berada dalam konteks perlawanan terhadap pendudukan Israel, sementara Taliban dikaitkan dengan pengalaman mengalahkan Amerika Serikat di Afghanistan.
Dalam pembacaan Middle East Eye, penggunaan ayat tersebut menghubungkan pengalaman Taliban melawan AS dengan harapan kemenangan kelompok Palestina atas Israel.
Mitra Regional
Qatar, Turki, Pakistan, dan Mesir berada dalam posisi yang berbeda dari kelompok-kelompok yang masuk dalam poros perlawanan Iran. Negara-negara ini disambut dan diberi penghormatan, tetapi tidak ditempatkan sebagai bagian dari kubu perlawanan bersenjata.
Qatar mendapat Surah Al-Fath ayat 1–3 yang berisi tentang anugerah kemenangan yang nyata, pengampunan dosa, penyempurnaan nikmat, dan pemberian pertolongan yang kuat dari Allah. Ayat yang sama dibacakan untuk Jihad Islam Palestina dan Taliban.
Turki mendapat Surah An-Nisa ayat 95 yang berisi tentang keutamaan dan derajat yang lebih tinggi bagi orang-orang yang berjuang dengan harta dan jiwa mereka dibandingkan dengan orang-orang yang memilih tinggal di rumah.
Pakistan mendapat Surah Al-Isra' ayat 80 yang berbentuk doa memohon agar dimasukkan dan dikeluarkan dengan cara yang benar, serta memohon kekuasaan dari sisi Allah yang dapat memberi pertolongan. Sejak awal perang, Pakistan bersama Qatar aktif di jalur diplomatik. Islamabad disebut memanfaatkan hubungannya dengan Presiden AS Donald Trump untuk membantu menjembatani perbedaan antara Iran dan AS. Peran itu memperlihatkan posisi Pakistan sebagai salah satu jalur komunikasi penting dalam krisis tersebut.
Mesir mendapat dua pembacaan ayat. Dalam pembacaan pertama, ayat yang dipilih adalah Surah Al-Hijr ayat 45–48 yang berisi tentang balasan surga yang penuh kedamaian, keamanan, dan hilangnya rasa dendam di hati bagi orang-orang yang bertakwa. Sementara pada pembacaan kedua, ayat yang dipilih adalah Surah Az-Zumar ayat 73 yang berisi tentang kisah orang-orang bertakwa yang diantarkan ke dalam surga secara berombongan dan disambut oleh para penjaganya dengan ucapan salam keselamatan untuk tinggal di dalamnya secara kekal.
Dari pola tersebut, Qatar, Turki, Pakistan, dan Mesir tampak ditempatkan sebagai mitra penting bagi Iran melalui diplomasi, perdagangan, atau politik kawasan, tetapi bukan sebagai bagian dari barisan ideologis dan militer Teheran seperti Hamas, Hizbullah, atau Houthi.
Nada berbeda muncul dalam ayat yang ditujukan kepada pemerintah Lebanon. Jika Hizbullah mendapat ayat bernada pujian, pemerintah resmi Lebanon justru mendapat Surah An-Nisa ayat 66 yang berisi tentang gambaran bahwa manusia pada umumnya tidak akan mau mengorbankan diri atau keluar dari kampung halaman saat diperintahkan, kecuali sebagian kecil saja dari mereka. Pemerintah Lebanon kerap dikritik oleh sebagian pihak karena dianggap tidak cukup tegas menghadapi Israel, sementara di sisi lain mengecam serangan balasan Hizbullah terhadap pasukan Israel.