Liputan6.com, Jakarta - Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, eskalasi konflik Rusia dan Ukraina masih menjadi salah satu faktor yang membayangi kondisi geopolitik global. Dia menuturkan, serangan Rusia ke ibu kota Ukraina, Kyiv, menggunakan drone dan rudal dalam skala besar menunjukkan konflik belum mengarah pada penyelesaian.
Ia menjelaskan, wilayah yang kini berada di bawah kendali Rusia merupakan daerah penghasil berbagai komoditas penting, mulai dari komoditas keras (hard commodity), komoditas lunak (soft commodity), hingga produk pertanian. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu hambatan utama dalam proses negosiasi perdamaian antara kedua negara.
Advertisement
"Saya pesimis bahwa Ukraina dan Rusia ini akan terjadi gencatan senjata karena banyak wilayah-wilayah Ukraina yang sudah dikuasai oleh Rusia dan wilayah-wilayah tersebut adalah penghasil komoditas baik hard commodity, soft commodity, maupun agrikultur,” ungkapnya di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Ia mengatakan, intensitas serangan tersebut memperburuk situasi keamanan di Kyiv. Di tengah kondisi itu, muncul wacana bahwa Rusia dan Ukraina akan kembali melanjutkan pembahasan mengenai gencatan senjata.
Namun, Ibrahim pesimistis upaya tersebut dapat membuahkan hasil dalam waktu dekat. Dia menilai, peluang tercapainya gencatan senjata masih kecil karena Rusia telah menguasai sejumlah wilayah strategis di Ukraina.
“Memang ada keinginan dari Rusia dan Ukraina untuk kembali melanjutkan pembahasan gencatan senjata. Namun, saya melihat peluang tercapainya kesepakatan itu masih sangat kecil,” jelasnya.
Rusia Gempur Kyiv
Sebelumnya, Rusia melancarkan serangan udara berskala besar ke ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Kamis (2/7/2026) malam dengan mengerahkan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai 16 lainnya.
Kepala Administrasi Militer Kyiv, Tymur Tkachenko, mengatakan serangan menghantam sejumlah bangunan tempat tinggal di berbagai wilayah ibu kota. Sebuah hotel di jalan utama pusat kota juga dilaporkan terbakar akibat serangan tersebut, dikutip dari laman The Guardian, Kamis, 2 Juli 2026.
Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko menyebut sebuah gedung apartemen sembilan lantai mengalami kerusakan parah sehingga sejumlah warga terjebak di dalamnya. Sementara itu, atap gedung apartemen bertingkat tinggi lainnya juga dilaporkan terbakar.
Klitschko mengatakan lantai satu hingga lantai enam sebuah gedung apartemen runtuh setelah terkena serangan langsung.
Dalam unggahannya di Telegram, ia meminta warga tetap berada di tempat perlindungan karena "serangan musuh yang dahsyat" masih berlangsung di ibu kota.
Serangan Rusia dilaporkan berdampak pada seluruh 10 distrik di Kyiv, baik di sisi timur maupun barat Sungai Dnipro. Setelah peringatan serangan udara dikeluarkan, ribuan warga bergegas mencari perlindungan di stasiun metro.
Banyak warga membawa anak-anak, barang-barang penting, tenda, hingga hewan peliharaan saat berlindung di bawah tanah. Peringatan serangan udara juga diberlakukan di sebagian besar wilayah Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya telah memperingatkan adanya potensi serangan besar berdasarkan laporan intelijen. Ia bahkan mempersingkat kunjungannya ke Dublin, Irlandia, untuk kembali memantau situasi di dalam negeri.
Intensitas Serangan Rusia ke Ukraina
Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia meningkatkan intensitas serangan terhadap Kyiv. Peningkatan serangan itu terjadi di tengah operasi drone jarak jauh Ukraina yang menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur energi Rusia, yang disebut telah mengganggu jalur logistik dan pasokan bahan bakar di negara tersebut.
Di tengah eskalasi konflik, Polandia mengerahkan jet tempur sebagai langkah antisipasi untuk mengamankan wilayah udaranya.
Angkatan Bersenjata Polandia menyatakan pengerahan pesawat tempur dilakukan sebagai tindakan pencegahan, terutama untuk menjaga keamanan wilayah udara yang berbatasan dengan kawasan yang terdampak konflik.
"Tindakan ini bersifat preventif dan bertujuan mengamankan serta melindungi wilayah udara, terutama di daerah yang berdekatan dengan wilayah yang terancam," demikian pernyataan militer Polandia melalui media sosial X.