Liputan6.com, Jakarta: Niat Yayasan Warga Betawi gagal mempertemukan Presiden Abdurrahman Wahid, Wakil Presiden Megawati Sukarnoputri, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua DPR Akbar Tandjung. Buktinya, acara halal bi halal yang digelar di Istora Senayan, Ahad (18/02), hanya dihadiri Presiden wahid beserta istri Sinta Nuriyah.
Sehari sebelumnya, baik Megawati, Amien, dan Akbar mengaku sudah bersedia hadir. Namun, belakangan, mereka tak hadir dengan berbagai alasan. Amien rupanya didaulat hadir pada rapat internal dalam menghadapi rapat kerja Partai Amanat Nasional, di Puncak, Jawa Barat. Megawati sudah mengikat janji dengan sebuah acara di luar kota. Sedangkan Akbar, tak jelas alasan ketidakhadirannya.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Warga Betawi Kiai Haji Zainuddin MZ tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Sebab ia sangat berharap, acara ini dapat menjadi wadah penting untuk menyatukan keempat tokoh yang saat ini terkesan tak akrab. Kecuali dihadiri ribuan warga betawi, tak banyak tokoh politik dan pejabat yang hadir. Gubernur Jakarta Sutiyoso pun hanya diwakili Wakil Gubernur Abdul Kahfi.
Sementara itu, Presiden Wahid berpesan agar warga Betawi lebih banyak mengupas sejarah budayanya. Sedangkan mengenai ketidakhadiran ketiga tokoh, Gus Dur mengatakan hanya soal kecil. Sebab yang penting adalah mereka tetap mempunyai keinginan untuk membangun bangsa ini. "Anggap saja, mereka ada di sini," kata Gus Dur berseloroh. Dia juga mengungkapkan keinginannya untuk melakukan reformasi total. "Sekarang ini tinggal demonstrasi saja. Itu pun hanya kecil dan mudah-mudahan beres April nanti," kata Gus Dur optimistis.
Dalam dialog SCTV Ahad siang, pengamat politik Prof Dr Azyumardi Azra mengatakan bahwa ketidakhadiran Mega, Amien, dan Akbar sungguh mengecewakan. Sebab, banyak yang berharap mereka hadir dalam pertemuan itu. Namun Rektor Institut Agama Islam Negeri itu berpendapat, acara itu tak lebih dari pertemuan simbolis, meski bisa bermanfaat meredam arus bawah.
Agar pertemuan tersebut lebih bermanfaat sebaiknya ada pertemuan pendahulu yang digelar secara tertutup. Pertemuan tersebut, menurut Azyumardi, mungkin bisa menghasilkan hal-hal yang konkret dalam pertemuan puncak. Hal yang dibicarakan bisa meliputi persoalan politik, penegakan hukum, dan persoalan lain yang mendesak. Dengan begitu, tambah dia, reformasi total seperti yang diinginkan Gus Dur dapat tercapai.
Selain keempat tokoh tersebut, menurut Azyumardi, ketua-ketua fraksi di MPR juga mesti diajak bicara. Agar lebih netral, sebaiknya kehadiran tokoh-tokoh madania juga diperlukan sebagai pendamping. Para tokoh tersebut di antaranya Nurcholis Madjid dan Emil Salim.(AWD/Liputan 6 SCTV)
Sehari sebelumnya, baik Megawati, Amien, dan Akbar mengaku sudah bersedia hadir. Namun, belakangan, mereka tak hadir dengan berbagai alasan. Amien rupanya didaulat hadir pada rapat internal dalam menghadapi rapat kerja Partai Amanat Nasional, di Puncak, Jawa Barat. Megawati sudah mengikat janji dengan sebuah acara di luar kota. Sedangkan Akbar, tak jelas alasan ketidakhadirannya.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Warga Betawi Kiai Haji Zainuddin MZ tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Sebab ia sangat berharap, acara ini dapat menjadi wadah penting untuk menyatukan keempat tokoh yang saat ini terkesan tak akrab. Kecuali dihadiri ribuan warga betawi, tak banyak tokoh politik dan pejabat yang hadir. Gubernur Jakarta Sutiyoso pun hanya diwakili Wakil Gubernur Abdul Kahfi.
Sementara itu, Presiden Wahid berpesan agar warga Betawi lebih banyak mengupas sejarah budayanya. Sedangkan mengenai ketidakhadiran ketiga tokoh, Gus Dur mengatakan hanya soal kecil. Sebab yang penting adalah mereka tetap mempunyai keinginan untuk membangun bangsa ini. "Anggap saja, mereka ada di sini," kata Gus Dur berseloroh. Dia juga mengungkapkan keinginannya untuk melakukan reformasi total. "Sekarang ini tinggal demonstrasi saja. Itu pun hanya kecil dan mudah-mudahan beres April nanti," kata Gus Dur optimistis.
Dalam dialog SCTV Ahad siang, pengamat politik Prof Dr Azyumardi Azra mengatakan bahwa ketidakhadiran Mega, Amien, dan Akbar sungguh mengecewakan. Sebab, banyak yang berharap mereka hadir dalam pertemuan itu. Namun Rektor Institut Agama Islam Negeri itu berpendapat, acara itu tak lebih dari pertemuan simbolis, meski bisa bermanfaat meredam arus bawah.
Agar pertemuan tersebut lebih bermanfaat sebaiknya ada pertemuan pendahulu yang digelar secara tertutup. Pertemuan tersebut, menurut Azyumardi, mungkin bisa menghasilkan hal-hal yang konkret dalam pertemuan puncak. Hal yang dibicarakan bisa meliputi persoalan politik, penegakan hukum, dan persoalan lain yang mendesak. Dengan begitu, tambah dia, reformasi total seperti yang diinginkan Gus Dur dapat tercapai.
Selain keempat tokoh tersebut, menurut Azyumardi, ketua-ketua fraksi di MPR juga mesti diajak bicara. Agar lebih netral, sebaiknya kehadiran tokoh-tokoh madania juga diperlukan sebagai pendamping. Para tokoh tersebut di antaranya Nurcholis Madjid dan Emil Salim.(AWD/Liputan 6 SCTV)