Menjelajahi Jakarta Tempo <i>Doeloe</i>

Para peserta yang berjumlah 60 orang itu menjelajahi situs-situs bersejarah di kawasan Kampung Bandan, Jakbar. Mereka mengunjungi Museum Seni Rupa dan Keramik, Stasiun Jakarta Gudang, dan Mesjid Kramat.

oleh Liputan6Diterbitkan 19 Juli 2004, 10:59 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Peninggalan sejarah selalu menarik untuk ditelusuri. Setidaknya untuk 60 orang peserta kunjungan wisata yang digelar Museum Sejarah Jakarta, baru-baru ini. Mereka diajak untuk menjelajahi tempat-tempat bersejarah di kawasan Kampung Bandan, Jakarta Barat. Peserta kunjungan wisata itu umumnya kaum remaja yang mengisi akhir libur sekolah. Sebagian besar peserta mengaku tertarik mengikuti acara tersebut karena ingin mengetahui lebih jauh sejarah Jakarta tempo dulu.

Perjalanan dimulai dengan mengunjungi Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik. Gedung itu dibangun pada 1870 untuk Dewan Pengadilan. Di tempat itu pengunjung bisa mengamati aneka keramik lokal maupun asing selain sejumlah patung dan lukisan antik. Obyek berikutnya adalah Stasiun Jakarta Gudang yang dibangun awal abad 20. Namun rel keretanya telah terpasang sejak 1911 dengan melayani rute Batavia-Tanjung Priok dan Batavia-Rangkas Bitung. Stasiun tersebut kini digunakan untuk melayani angkutan barang dengan tujuan Surabaya, Jawa Timur.

Situs bersejarah lain yang dikunjungi adalah Mesjid Kramat di Kampung Bandan. Masjid yang juga disebut Mesjid Al-Mukarromah itu dibangun akhir abad 18. Nama Masjid Kramat berasal dari tiga makam yang dianggap kramat yang masih banyak dikunjungi peziarah dari berbagai wilayah di Indonesia.

Secara keseluruhan peserta menempuh perjalanan sekitar enam kilometer dengan berjalan kaki. Acara ini merupakan program rutin dari Museum Sejarah Jakarta setiap bulan pada minggu ketiga. Akhir bulan silam, Museum Jakarta juga menggelar Pasar Seni Batavia. Sayangnya, respons masyarakat masih kurang menggembirakan [baca: Pasar Seni Batavia Sepi Pengunjung]. Menurut Kepala Museum Sejarah Jakarta Tinia Budiati, minimnya pengunjung ini lebih disebabkan terbatasnya dana untuk mengembangkan program yang menarik.(YAN/Zulkarnain dan Agus Ginanjar)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya