Ikuti Wall Street, Bursa Saham Asia Bervariasi 3 Juli 2026

Mengekor wall street, bursa saham Asia Pasifik pada Jumat pagi, (3/7/2026) beragam.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 03 Juli 2026, 08:26 WIB
Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik beragam pada perdagangan Jumat pagi, (3/7/2026). Pergerakan bursa saham Asia Pasifik itu di tengah investor terus melakukan rotasi dari saham teknologi, mengikuti koreksi di bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street.

Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 di Jepang turun 0,86% pada pembukaan perdagangan. Indeks Topix menguat 0,34%. Indeks Kospi di Korea Selatan melambung 0,97%, dan indeks Kosdaq terpangkas 1,12%.

Indeks ASX 200 di Australia bertambah 0,42%. Kontrak berjangka untuk indeks Hang Seng Hong Kong berada di 23.061, sedikit menguat dari penutupan terakhir di 23.055,03.

Sedangkan di wall street, indeks saham acuan bervariasi. Indeks Dow Jones ditutup di level tertinggi setelah laporan pekerjaan Juni yang lebih lemah dari perkiraan memicu harapan akan penurunan suku bunga the Federal Reserve (the Fed). Sementara itu, pelemahan saham semikonduktor menyeret indeks Nasdaq melemah.

Indeks Dow Jones menguat 594,83 poin atau 1,14%, ke posisi 52.900,07. Indeks itu mencapai rekor tertinggi intraday baru di 52.903,85. Indeks S&P 500 menguat kurang dari 1 poin ke posisi 7.483,24. Indeks Nasdaq merosot 0,8% menjadi 25.832,67.

Sektor semikonduktor turun untuk hari kedua berturut-turut, membebani dua indeks acuan tersebut. ETF VanEck Semiconductor (SMH) turun 4,5%, dipimpin oleh penurunan 13,6% pada Teradyne dan penurunan 11,5% untuk KLA. Saham Nvidia juga turun 1,4%, sementara saham Micron kehilangan 5,5%.

Pasar AS akan tutup pada Jumat untuk libur Hari Kemerdekaan.

Indeks Kospi Tertekan

Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Sebelumnya, bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan saham Kamis, (2/7/2026). Di antara indeks saham acuan di bursa saham Asia, indeks Kospi di Korea Selatan memimpin koreksi.

Mengutip CNBC, indeks Kospi turun 7,89% menjadi 7.648,08. Level itu terendah sejak 8 Juni 2026. Selain itu, indeks kapitalisasi saham kecil Kosdaq merosot 6,74% menjadi 866,72.  Adapun saham SK Hynix merosot 14,57% menjadi 2.187.

Sementara itu, indeks Nikkei 225 di Jepang terpangkas 2,47% menjadi 68.733,15. Di sisi lain, indeks Topix naik 0,09% menjadi 4.014,98. Indeks ASX 200 di Australia mendatar di 8.724,50. Indeks Hang Seng di Hong Kong naik 0,8%. Indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang melemah 1,2%.

"Koreksi tajam di sektor semikonduktor Asia hari ini lebih disebabkan oleh dampak dari wall street,” ujar Analis IG, Fabien Yip.

Ia menambahkan, aksi ambil untung juga menambah beban di bursa saham Asia Pasifik.

"Ada laporan tentang upaya Apple untuk menjangkau produsen memori China yang dibatasi untuk perangkat pasar China, yang menimbulkan ancaman harga bagi perusahaan Korea dan Jepang yang sudah mapan,” kata dia.

 

Perhatian Investor

Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Adapun perhatian investor tertuju pada data nonfarm payrolls Amerika Serikat yang dirilis Kamis pekan ini. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan tambahan 110.000 pekerjaan pada Juni. Namun, perkiraan bervariasi dari peningkatan 25.000 hingga 200.000, menunjukkan kemungkinan kejutan cukup tinggi. Tingkat pengangguran akan stabil di 4,3%.

“Idealnya, pelaku pasar saham menginginkan hasil yang ideal, penciptaan lapangan kerja yang layak, tingkat pengangguran yang stabil,” kata Head of Research Pepperstone, Chris Weston.

“Apa pun yang menghindari peningkatan signifikan dalam probabilitas kenaikan suku bunga jangka pendek kemungkinan akan disambut baik oleh investor saham,” kata dia.

Pada forum Sintra, Ketua the Federal Reserve Kevin Warsh menuturkan, risiko inflasi mereda baru-baru ini, hanya memberikan sedikit kelegaan bagi obligasi pemerintah.

Warsh menuturkan tetap berpegang teguh pada target inflasi 2%. Pasar saat ini memperkirakan sekitar 80% kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya