Liputan6.com, Jakarta: Guru Besar Ilmu Politik Ohio State University, Amerika Serikat, R. William Liddle membantah dugaan yang menyebutkan bahwa pihak asing telah mempengaruhi proses pemilihan presiden di Indonesia. Seperti dikatakan Liddle di Jakarta, baru-baru ini, dugaan itu tidak masuk akal. Sebab pihak asing hanya memantau pemilihan umum.
Lagi pula, Liddle menambahkan, sebagian besar pengamat asing sudah melakukan penelitian di Indonesia selama bertahun-tahun. Para pengamat asing itu juga berada di Indonesia tak hanya ketika pemilu berlangsung. "Jadi tidak masuk akal menuduh mereka sebagai kepanjangan tangan pemerintah [Amerika Serikat] atau CIA [Badan Pusat Intelijen AS]," kata pengarang buku Pemilu-Pemilu Orde Baru: Pasang Surut Kekuasaan Politik itu.
Pendapat senada diutarakan pengamat politik Fachry Ali. Menurut dia, pendapat para ilmuwan asing tak bisa mempengaruhi pilihan masyarakat Indonesia. Di mata Fachry, cuma sebagian kecil masyarakat di perkotaan yang peduli dengan hasil-hasil penelitian ilmuwan asing tersebut.
Dugaan pihak asing telah mempengaruhi proses pilpres, 5 Juli silam, dilontarkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie. Bahkan, seperti dilansir sejumlah media massa, Kwik menyebut dua nama yang berperan dalam urusan turut campur itu, yaitu Liddle dan mantan Presiden AS Jimmy Carter.
Menurut Kwik, kesan campur tangan berlebihan bisa dilihat ketika Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) mengumumkan hasil penghitungan cepat atau quick count. Saat itu, yang mendominasi pengumuman adalah National Democratic Institute (NDI) dari AS yang bekerja sama dengan LP3ES. Kwik menilai, pengamat Indonesia hanya menjadi asisten bagi Liddle [baca: LP3ES Akan Dijatuhi Sanksi].(SID/Miko Toro dan Agus Priyatno)
Lagi pula, Liddle menambahkan, sebagian besar pengamat asing sudah melakukan penelitian di Indonesia selama bertahun-tahun. Para pengamat asing itu juga berada di Indonesia tak hanya ketika pemilu berlangsung. "Jadi tidak masuk akal menuduh mereka sebagai kepanjangan tangan pemerintah [Amerika Serikat] atau CIA [Badan Pusat Intelijen AS]," kata pengarang buku Pemilu-Pemilu Orde Baru: Pasang Surut Kekuasaan Politik itu.
Pendapat senada diutarakan pengamat politik Fachry Ali. Menurut dia, pendapat para ilmuwan asing tak bisa mempengaruhi pilihan masyarakat Indonesia. Di mata Fachry, cuma sebagian kecil masyarakat di perkotaan yang peduli dengan hasil-hasil penelitian ilmuwan asing tersebut.
Dugaan pihak asing telah mempengaruhi proses pilpres, 5 Juli silam, dilontarkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie. Bahkan, seperti dilansir sejumlah media massa, Kwik menyebut dua nama yang berperan dalam urusan turut campur itu, yaitu Liddle dan mantan Presiden AS Jimmy Carter.
Menurut Kwik, kesan campur tangan berlebihan bisa dilihat ketika Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) mengumumkan hasil penghitungan cepat atau quick count. Saat itu, yang mendominasi pengumuman adalah National Democratic Institute (NDI) dari AS yang bekerja sama dengan LP3ES. Kwik menilai, pengamat Indonesia hanya menjadi asisten bagi Liddle [baca: LP3ES Akan Dijatuhi Sanksi].(SID/Miko Toro dan Agus Priyatno)