Liputan6.com, Jakarta - Pasha akhirnya bisa bernapas lega setelah hasil tes kehamilan Santi, wanita yang menjadi selingkuhannya, menunjukkan hasil negatif. Meski terhindar dari masalah tersebut, posisinya di Kopi Angkasa justru mulai berada di ujung tanduk. Khansa yang telah mengetahui perselingkuhan Pasha meminta Rangga untuk meliburkannya sementara agar ia memiliki waktu lebih banyak bersama Nadira. Permintaan itu membuat Pasha merasa perlahan disingkirkan dari lingkungan kerja.
Diliputi rasa kesal, Pasha nekat mendatangi kamar Khansa pada malam hari untuk melontarkan ancaman. Sayangnya, saat keluar dari kamar tamu, aksinya tanpa sengaja dipergoki Bi Minah. Ketakutan melihat kejadian itu, Bi Minah segera menceritakan semuanya kepada Nadira. Kecurigaan Nadira pun semakin besar ketika ia memergoki Pasha dan Khansa sedang berada di warung bubur. Padahal, situasi tersebut sengaja diatur Pasha untuk memancing kesalahpahaman. Tanpa mengetahui fakta sebenarnya, Nadira langsung melabrak Khansa dan nyaris menamparnya di depan umum.
Advertisement
Fitnah yang diterimanya membuat Khansa terpukul. Meski begitu, ia tetap mendampingi Anggun dan Rangga menghadiri acara tahlilan untuk mengenang almarhumah Aishya. Dalam acara tersebut, Khansa diminta memimpin pembacaan ayat suci Al-Qur'an.
Suaranya yang merdu dan penuh penghayatan membuat suasana berubah begitu haru hingga banyak tamu tak kuasa menahan air mata. Rangga menjadi orang yang paling tersentuh karena cara Khansa melantunkan ayat serta teknik pengambilan napasnya sangat mengingatkannya pada mendiang Aishya. Momen itu seolah menghadirkan kembali kenangan lama sekaligus menumbuhkan ikatan batin yang semakin kuat di antara Khansa dan Rangga.
Di tempat lain, Fathan menghadapi situasi genting saat terjebak kemacetan panjang akibat kecelakaan beruntun. Pada saat bersamaan, seorang bos mafia bernama Guntur dilarikan ke unit gawat darurat karena mengalami serangan jantung dalam kondisi kritis.
Keterlambatan Fathan membuat peluang penyelamatan semakin kecil. Walaupun telah mengerahkan seluruh kemampuan medisnya melalui tindakan CPR dan penggunaan defibrilator, nyawa Guntur tetap tidak dapat diselamatkan. Kehilangan suaminya secara tragis membuat Friska, istri Guntur, larut dalam emosi. Dalam luapan duka dan amarah, ia mencengkeram kerah baju Fathan sambil menuduh dokter tersebut sebagai penyebab kematian suaminya.