Liputan6.com, Jakarta - Membangun sebuah usaha memang tidak mudah. Namun, mempertahankannya agar tetap bertahan selama puluhan tahun tentu menjadi tantangan yang jauh lebih besar. Persaingan yang semakin ketat, perubahan tren konsumen, hingga kenaikan harga bahan baku menjadi ujian yang harus dihadapi para pelaku usaha dari waktu ke waktu.
Perjalanan panjang itulah yang dijalani Warung Betawi H. Muhayar di kawasan Jalan Taman Margasatwa Raya, Jakarta Selatan. Berdiri sejak 1979, warung makan legendaris ini kini dikelola oleh generasi kedua, Mumun, yang meneruskan usaha sang ayah dengan tetap menjaga cita rasa khas yang telah dikenal pelanggan selama hampir lima dekade.
Advertisement
Namun, mempertahankan usaha ternyata bukan hanya soal resep masakan. Seiring perkembangan zaman, pengelolaan bisnis pun harus ikut bertransformasi. Karena itulah, Mumun mulai memanfaatkan layanan digital seperti Saku Bisnis dan QRIS Bisnis dari Bank Raya untuk membantu pengelolaan keuangan usahanya menjadi lebih rapi dan efisien.
Lalu, seperti apa perjalanan Warung Betawi H. Muhayar hingga tetap eksis sampai sekarang?
Menjaga Warisan Rasa Selama Hampir Lima Dekade
Menjelang jam makan siang, Warung Betawi H. Muhayar nyaris tak pernah sepi. Bangunan sederhana di pinggir jalan yang tak pernah pindah sejak awal berdiri itu dipenuhi pelanggan yang datang untuk menikmati hidangan khas Betawi yang sudah menjadi langganan selama bertahun-tahun.
Meski dikenal dengan menu pecaknya saat ini, Mumun mengungkapkan bahwa ketika pertama kali berdiri, pilihan menu warung sebenarnya cukup berbeda.
"Dulu di awal berdiri menunya lain, ada soto Betawi juga. Tapi, seiring berjalannya waktu, orang-orang ternyata lebih memilih menu yang lebih sehat. Jadi yang bertahan adalah menu ikan seperti gurame, ikan mas, ayam, seperti itu," jelas Mumun.
Kini, pecak gurame dan pecak ikan mas menjadi menu andalan yang paling banyak diburu pelanggan.
"Di sini yang paling favorit dan banyak dicari adalah pecak, ada pecak gurame, pecak ikan mas."
Sejak mengambil alih pengelolaan usaha keluarga pada 2010, Mumun menyadari bahwa tantangan terbesar bukan hanya mempertahankan pelanggan, tetapi juga menjaga kualitas rasa di tengah harga bahan baku yang terus berubah. Baginya, konsistensi adalah modal utama agar pelanggan tetap percaya.
"Tantangan terbesar itu di harga bahan-bahan ya. Kalau pas bahan-bahan naik, kita harus bisa tetap mempertahankan cita rasa yang sama dan harga yang sama. Jadi misalnya cabe, di resep kita pake cabe sekilo. Tapi harganya naik nih. Kita nggak bisa mengurangi karena semua resep itu harus sama, nggak ada yang diubah supaya cita rasanya juga tetap sama. Jadi ya sudah nggak apa-apa kita mengurangi keuntungan, yang penting rasanya tetap sama," cerita Mumun.
Keputusan tersebut memang membuat keuntungan terkadang harus dikorbankan. Namun, menurutnya, menjaga kepercayaan pelanggan jauh lebih penting dibanding mengambil jalan pintas dengan mengurangi kualitas masakan.
Pengelolaan Keuangan Kini Lebih Rapi Berkat Transformasi Digital
Selain menjaga kualitas makanan, Mumun juga mulai menyadari pentingnya pengelolaan keuangan usaha yang lebih tertata.
Salah satu kendala yang dulu sering dialaminya adalah tercampurnya uang pribadi dengan uang hasil usaha. Kondisi tersebut membuat pencatatan keuangan menjadi kurang praktis. Perubahan mulai dirasakan setelah ia mengenal Bank Raya pada 2023.
"Pertama kali mengenal Bank Raya sekitar tahun 2023. Waktu itu kita sedang mencari-cari bank yang bisa meringankan, tanpa admin, jadi tanpa potongan apa-apa. Dari situ ketemulah Bank Raya," ujar Mumun.
Sejak menggunakan fitur Saku Bisnis, proses mengelola pemasukan usaha menjadi lebih disiplin karena dana bisnis dapat dipisahkan dari kebutuhan pribadi.
"Kalau dulu sering tercampur uang pribadi dan uang usaha. Setelah kita mengenal fitur Saku Bisnis dari Bank Raya, bisa dipisahkan antara uang pribadi dan usaha. Jadi pencatatannya lebih mudah juga," lanjutnya.
Kemudahan lain juga dirasakan saat membayar gaji karyawan. Melalui fitur mass transfer di Saku Bisnis, proses pembayaran dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus menyiapkan uang tunai satu per satu.
"Pembayaran gaji karyawan juga lebih mudah ya. Kalau dulu gajian harus bagi-bagi uang tunai kan lebih ribet. Sekarang tinggal transfer saja. Dan kalau rekening pegawai kan macem-macem ya, itu juga tanpa biaya admin," jelas Mumun.
Tak hanya itu, Warung Betawi H. Muhayar juga memanfaatkan QRIS Bisnis dari Bank Raya untuk melayani transaksi pelanggan yang kini semakin banyak beralih ke pembayaran non-tunai.
Menurut Mumun, fitur notifikasi pembayaran secara real time melalui email membuat proses transaksi menjadi lebih aman karena bukti pembayaran tidak dapat dimanipulasi. Selain itu, pencairan dana yang dapat dilakukan hingga empat kali dalam sehari juga membantu operasional usaha ketika membutuhkan dana dengan cepat. Perubahan perilaku pelanggan pun semakin terasa.
"Aplikasi Bank Raya sendiri juga mudah digunakan. QRIS Bisnis juga memudahkan pelanggan untuk melakukan transaksi non tunai. Saat ini, pelanggan yang melakukan transaksi dengan QRIS sekitar 75%, bahkan kadang kita nggak megang tunai sama sekali buat beli yang kecil-kecil. Jadi, sangat penting pelaku UMKM ini mengikuti perkembangan teknologi," cerita Mumun.
Melihat manfaat yang dirasakan selama beberapa tahun terakhir, Mumun berharap semakin banyak pelaku UMKM yang mulai memanfaatkan layanan digital untuk mengembangkan bisnis mereka.
Ia juga berharap kerja sama dengan Bank Raya dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak inovasi yang dapat membantu pelaku usaha bertumbuh di tengah perkembangan dunia bisnis yang semakin dinamis.
Bagi Mumun, menjaga warisan kuliner keluarga memang tetap menjadi prioritas. Namun, ia percaya bahwa mempertahankan usaha di era sekarang juga membutuhkan keberanian untuk beradaptasi. Sebab, ketika cita rasa yang konsisten dipadukan dengan pengelolaan bisnis yang semakin modern, peluang usaha untuk terus bertahan pun menjadi semakin besar.