Liputan6.com, Jakarta - Situasi pandemi Covid-19 menjadi titik balik bagi Alawana, brand fesyen asal Bandung yang dirintis Arina Budi. Menyadari bahwa cara berpakaian orang berubah, ia me-rebranding label yang dirintisnya sejak 2005 menjadi bisnis busana multifungsi berkonsep One Outfit, Multiple Looks sejak 2022.
"Pada saat itu, wanita-wanita itu pengen bajunya fleksibel dan nyaman. Banyak yang pakai baju kayak baju tidur tapi bisa dipakai ke mal. Nah, saya lihat dari situ, ternyata memang orang, terutama perempuan, lebih banyak senang baju yang fleksibel," kata Arina di sela jumpa pers Sisberdaya dan Disberdaya 2026 di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026.
Advertisement
Dengan konsep multifungsi, ia merancang agar blus bisa juga dipakai outer. Ada pula outer yang bisa dipakai sebagai tote bag. Outer pula yang selama ini menjadi produk terlaris Alawana karena memenuhi kebutuhan soal fleksibilitasnya.
"Kalau sekarang kebanyakan fast fashion ya, nah saya pengen ke arah slow fashion. Jadi, orang itu enggak perlu banyak baju dalam lemarinya. Cukup beberapa, tapi menampilkan berbagai tampilan," jelasnya.
Busana yang dirancang mayoritas bergaya kasual. Materialnya didapatkan secara lokal, terkadang ia memanfaatkan tenun, kadang pula batik, terutama dari Garut.
Bersamaan dengan itu, ia didatangi seorang ibu yang mencari kerja sebagai penyulam. Ibu tersebut menunjukkan hasil kerajinannya yang dinilainya cukup bagus.
"Saya lihat hasil kerjanya bagus, kenapa enggak kita berkolaborasi gitu kan? Ternyata, begitu saya mengeluarkan konsep dengan sentuhan detail handmade sulam, ternyata permintaan pasarnya kok bagus. Dari situlah kemudian kita tambahkan itu," tutur Arina.
Kolaborasi dengan Berbagai Pihak
Seiring bertambahnya permintaan, jumlah penyulam yang bermitra dengan Alawana pun bertambah. Dari satu orang, kini sudah ada tujuh perempuan penyulam yang mengerjakan pesanan dari brand tersebut. Itu di luar dari lima penjahit yang mengerjakan pembuatan busana.
"Ke depan kalau usaha ini semakin berkembang, saya ingin bisa mempekerjakan 10 penyulam," kata Arina.
Selain dengan penyulam, ia juga berkolaborasi dengan brand kerajinan tangan lokal dalam mengolah sisa kain menjadi aksesori. Biasanya aksesori itu berbentuk bros, tapi kini sudah mulai merambah ke bag charm atau gantungan tas. Produk tersebut dipasarkan di bawah label Alawana.
Kolaborasi tidak hanya dijalin dengan sesama pelaku usaha fesyen, tetapi juga kuliner. Ia dan mitra kolaboratornya membuat paket spesial untuk meningkatkan penjualan. Kolaborasi juga jadi kuncinya untuk bertahan.
"Jadi biar ketika usahanya maju, saya enggak maju sendirian, tapi barengan dengan teman-teman UMKM lain," sahutnya.
Terpilih dari 6.800 Peserta Sisberdaya dan Disberdaya 2026
Arina menjadi salah satu dari sekitar 6.800 peserta yang mendaftar program Sisberdaya dan Disberdaya 2026. Menurut Olafina Harahap, Direktur Komunikasi DANA, para peserta tidak hanya berasal dari wilayah yang sudah pernah ikut sebelumnya, tetapi juga daerah-daerah baru, yang menandakan bahwa jangkauan program tersebut semakin meluas.
"Jadi ada yang dari Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi Tengah. Area-area baru yang sebelumnya belum ada yang ikut, tahun ini ikut," kata dia.
Seluruh peserta, kata Ola, berhak mendapat akses ke materi pembelajaran online. Kurikulum tahun ini juga diperbarui dengan menambah porsi lebih banyak untuk materi digital marketing agar semakin gesit berpromosi. Materi soal AI untuk UMKM juga untuk pertama kalinya diperkenalkan tahun ini.
"Yang ketiga, kita tambahkan materi tentang literasi keuangan. Banyak dari sister-sister (sebutan bagi peserta program) yang mungkin keuangan pribadi sama keuangan bisnisnya masih nyampur nih. Kita panggil para ahli untuk menjelaskan bagaimana mengatur keuangan UMKM supaya lebih sehat," jelasnya.
Para Pemenang Sisberdaya dan Disberdaya 2026
Setelah melewati pelatihan secara online, seluruh peserta selanjutnya menjalani tes. Sebanyak 180 peserta terbaik terpilih untuk menyampaikan proposal bisnisnya kepada panitia.
Berdasarkan hasil penilaian terhadap proposal bisnis tersebut, 35 orang dinilai sebagai yang terbaik dan kemudian diundang ke Jakarta. Mereka selama dua hari diberikan pembekalan secara offline. Puncaknya, mereka diminta mempresentasikan proposal bisnis mereka di hadapan para juri sebelum menjalani penilaian akhir.
"Para juri itu akan menilai mengenai strategi-strategi bisnis mereka masing-masing, teknologi yang digunakan, apa komitmen-komitmen mereka terhadap sustainability atau keberlanjutan, dan juga bagaimana program untuk bisnis mereka ke depannya," imbuhnya.
Tujuh pemenang terpilih, terdiri dari tiga pemenang kategori ultra mikro, tiga pemenang kategori mikro, dan satu Disberdaya. Ultra mikro terdiri dari Bernika Purba (Minyak Kempu Karo); Hardinianti (Markisa Bintang Jaya); Vadya Amalia Shalsabil (At Peace Studio). Mikro terdiri dari Arina Budi Uminiarti (Alawana); Deva Nabilah (Best Craft Premium); dan Aske Mariska (DeFaVez). Pemenang Disberdaya adalah Rachel Stevani (Nugget Keraton).