Inggris Ogah Bernasib Seperti Jerman dan Belanda: Kalah Adu Penalti

Inggris menyiapkan diri menghadapi kemungkinan adu penalti melawan RD Kongo di Piala Dunia 2026. Three Lions tak ingin bernasib seperti Jerman dan Belanda.

oleh Asad ArifinDiterbitkan 30 Juni 2026, 22:00 WIB
Thomas Tuchel, pelatih Timnas Inggris, berbicara kepada para pemain Inggris saat istirahat minum selama pertandingan Grup L Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Ghana di Stadion Boston pada 24 Juni 2026 di Foxborough, Massachusetts. (Mattia Ozbot/Getty Images via AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Inggris mulai mempersiapkan segala kemungkinan jelang duel melawan RD Kongo pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Salah satu hal yang menjadi perhatian utama adalah skenario adu penalti yang bisa menentukan nasib mereka.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah dua tim besar Eropa harus tersingkir melalui drama dari titik putih. Jerman dan Belanda yang lebih diunggulkan justru gagal melanjutkan perjalanan setelah kalah dalam adu penalti melawan lawan masing-masing.

Inggris akan menghadapi RD Kongo di Atlanta Stadium, Rabu (1/7) malam WIB. Tim asuhan Thomas Tuchel datang sebagai favorit, tetapi mereka tidak ingin mengabaikan detail kecil yang bisa menentukan hasil pertandingan.

Adu penalti memang menjadi bagian yang sering menghantui Inggris dalam sejarah turnamen besar. Meski mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, bayangan kegagalan masa lalu masih menjadi pengingat bagi Three Lions.


Jerman dan Belanda Jadi Peringatan untuk Inggris

Kiper Paraguay Orlando Gill Paraguay menyelamatkan penalti keempat dari pemain Jerman Nick Woltemade dalam adu penalti selama pertandingan Babak 32 Besar Piala Dunia FIFA 2026 antara Jerman dan Paraguay di Stadion Boston pada 29 Juni 2026 di Foxborough, Massachusetts, AS, Senin (29/06/2026). AFP/ Getty Images/ Michael Reaves

Piala Dunia 2026 menghadirkan kejutan besar di babak 32 besar. Jerman yang berstatus empat kali juara dunia harus menerima kenyataan tersingkir setelah kalah 2-3 dari Paraguay dalam adu penalti.

Pertandingan Jerman kontra Paraguay berakhir imbang 1-1 setelah 120 menit. Die Mannschaft kemudian gagal menjaga ketenangan ketika pertandingan ditentukan melalui tendangan penalti.

Nasib serupa dialami Belanda. Tim Oranje kalah 2-3 dari Maroko dalam drama adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu.

Inggris memang memiliki catatan lebih baik dalam beberapa tahun terakhir. Di bawah Gareth Southgate, mereka memenangkan tiga dari empat adu penalti yang mereka jalani.

Namun, sejarah panjang Three Lions di turnamen besar masih menyimpan banyak cerita pahit. Inggris pernah tersingkir melalui adu penalti pada Piala Dunia 1990, 1998, dan 2006, serta kalah di final Euro 2020 dari Italia.


Pentingnya Faktor Mental dalam Penalti

Pemain Kroasia Josko Gvardiol (kanan) berebut bola dengan pemain Inggris Noni Madueke (kiri) saat laga Grup L Piala Dunia 2026 antara Inggris vs Kroasia di Arlington, Texas, dekat Dallas, Rabu, 17 Juni 2026. (AP Photo/Jessica Tobias)

Menghadapi RD Kongo, Inggris tidak hanya mempersiapkan strategi permainan. Mereka juga harus memastikan para pemain siap menghadapi tekanan jika laga berjalan hingga babak adu penalti.

Winger Inggris, Noni Madueke, menilai kesiapan mental menjadi faktor penting dalam eksekusi penalti. Ia menegaskan bahwa dirinya selalu siap jika dipercaya mengambil tanggung jawab tersebut.

"Pada akhirnya, itu tergantung pada keputusan pelatih dan apa yang dia inginkan dan apa yang menurutnya terbaik untuk tim, tetapi dari sisi saya, saya selalu siap," ucap winger Inggris, Noni Madueke.

"Banyak hal yang bersifat psikologis. Bagaimana Anda menendang bola, tergantung pada awalan lari Anda dan apakah Anda berhenti atau menunggu kiper, atau apakah Anda hanya memilih sudut dan berusaha menendangnya sebersih mungkin," imbuh Noni Madueke.

Sumber: FotMob

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya