Harga Emas Antam Hari Ini Turun Lagi, Buyback Anjlok Lebih Dalam

Harga emas Antam pada Selasa (30/6/2026) kembali melemah Rp 15.000 menjadi Rp 2.630.000 per gram.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 30 Juni 2026, 09:41 WIB
Pramuniaga menunjukkan emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk di sebuah gerai emas, Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas yang dijual PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari ini, Selasa (30/6/2026) turun Rp 15.000. Ini adalah penurunan kedua pekan ini setelah pada perdagangan Senin kemarin harga emas antam juga turun Rp 15.000.

Mengutip laman Logam Mulia, harga emas antam hari ini ditetapkan Rp 2.630.000 per gram. Pada perdagangan kemarin, harga emas antam dibanderol Rp 2.645.000 per gram.

Harga buyback emas Antam juga ikut turun dan mencatat koreksi lebih besar. Harga buyback emas Antam hari ini merosot Rp 25.000 menjadi Rp 2.335.000.

Sebagai informasi, harga buyback merupakan harga yang berlaku jika pemilik emas menjual kembali emasnya kepada Antam. Dengan demikian, Antam akan membeli emas tersebut seharga Rp 2.335.000 per gram.

Harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis, 29 Januari 2026, yakni sebesar Rp 3.168.000 per gram. Sementara itu, harga buyback saat itu berada di level Rp 2.989.000 per gram.

Informasi mengenai harga emas antam ini bersumber dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk. Dengan demikian, data yang disajikan memiliki tingkat akurasi dan kredibilitas yang tinggi bagi masyarakat.

Berikut daftar harga emas antam terbaru:

  • Harga emas 0,5 gram: Rp 1.365.500.
  • Harga emas 1 gram: Rp 2.630.000.
  • Harga emas 2 gram: Rp 5.200.000.
  • Harga emas 3 gram: Rp 7.775.000.
  • Harga emas 5 gram: Rp 12.925.000.
  • Harga emas 10 gram: Rp 25.795.000.
  • Harga emas 25 gram: Rp 64.362.000.
  • Harga emas 50 gram: Rp 128.645.000.
  • Harga emas 100 gram: Rp 257.212.000.
  • Harga emas 250 gram: Rp 642.765.000.
  • Harga emas 500 gram: Rp 1.285.320.000.
  • Harga emas 1.000 gram: Rp 2.570.600.000.

Harga Emas Turun ke Level Terendah 7 Bulan

Ilustrasi harga emas. Harga emas di pasar spot turun 1,7% menjadi US$ 4.019,79 per ons. (dok: Foto AI)

Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Senin setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu lonjakan harga minyak. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi sehingga memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.

Dikutip dari CNBC, Selasa (30/6/2026), harga emas di pasar spot turun 1,7% menjadi US$ 4.019,79 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 1,4% ke level US$ 4.038,90 per ons. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh titik terendah dalam lebih dari tujuh bulan.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan bahwa pelaku pasar masih sangat mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah.

"Pasar saat ini sangat mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah. Ketegangan memang kembali meningkat pada akhir pekan, sementara pelaku pasar juga masih menyesuaikan diri dengan sikap Federal Reserve yang kini cenderung lebih agresif dalam kebijakan moneternya," kata Peter Grant.

Menurutnya, meningkatnya ketegangan geopolitik pada akhir pekan membuat pasar kembali berhati-hati. Di saat yang sama, investor juga masih menyesuaikan diri dengan sikap Federal Reserve yang cenderung lebih agresif dalam kebijakan moneternya.

  

Aset Safe Haven Terkikis Harga Energi

Ilustrasi harga emas dunia. Harga emas di pasar spot turun 1,7% menjadi US$ 4.019,79 per ons. (Foto By AI)

Ketegangan meningkat setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu. Serangan itu terjadi tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan kepemimpinan Iran apabila negara tersebut tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian damai yang sedang dirundingkan.

Meningkatnya eskalasi konflik tersebut langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent di pasar global.

Di satu sisi, emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven yang biasanya diburu investor saat ketidakpastian geopolitik meningkat. Namun kali ini, lonjakan harga energi akibat konflik justru memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut meningkatkan peluang suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali dinaikkan. Situasi ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Federal Reserve sendiri pada bulan ini mempertahankan suku bunga acuannya. Meski demikian, para pembuat kebijakan memperkirakan masih ada peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini karena inflasi masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya