Liputan6.com, Jakarta - Kondisi fiskal Indonesia dipastikan terjaga baik hingga kini. Hal itu juga tercermin dari sejumlah indikator kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026, salah satunya defisit.
Demikian disampaikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung saat konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Advertisement
"Tadi dibahas bahwa kondisi fiskal itu masih sangat terjaga dengan baik," tutur Juda.
Hal tersebut juga tercermin dari indikator APBN. "Defisit hingga bulan Mei kemarin 0,7 persen dan diperkirakan sampai dengan akhir tahun juga masih di bawah 3 persen, jadi masih sangat terjaga. Pajak juga tumbuh dengan baik, 19,1 persen dan juga dari sisi belanja juga masih di atas 30 persen," ujar Juda.
Dalam laporan APBN Kinerja dan Fakta (KiTa) Edisi Juni 2026, APBN mencetak defisit sebesar Rp 180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) per Mei 2026. Secara keseluruhan, pendapatan negara terhimpun sebesar Rp 1.185 triliun atau setara 37,6 persen target APBN senilai Rp 3.153,6 triliun. Realisasi ini tumbuh sebesar 19,1 persen (year-on-year/yoy).
Komponen penerimaan perpajakan tembus Rp 958,2 triliun, yang ditopang oleh serapan pajak. Penerimaan pajak mencapai Rp 834,4 triliun atau tumbuh positif 22,1 persen (yoy).
Selain itu, penerimaan kepabeanan dan cukai tumbuh 0,7 persen (yoy) dengan nilai Rp 123,8 triliun. Komponen penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terhimpun sebesar Rp 226,4 triliun atau tumbuh 19,9 persen (yoy).
Kemudian, dari sisi belanja negara, realisasi per Mei 2026 tercatat mencapai Rp 1.365,4 triliun atau setara 35,5 persen dari target APBN Rp 3.842,7 triliun, tumbuh sebesar 34,4 persen (yoy). Pertumbuhan pesat terjadi pada belanja pemerintah pusat, dengan kenaikan 52, 6 persen (yoy) atau senilai Rp 1.059,3 triliun.
Penyaluran belanja kementerian/lembaga (K/L) tercatat mencapai Rp 517,7 triliun atau tumbuh signifikan 58,9 persen (yoy). Sedangkan belanja non-K/L tersalurkan Rp 541,6 triliun atau tumbuh 47 persen (yoy).
Sementara, penyaluran transfer ke daerah masih terkoreksi 4,9 persen (yoy), dengan realisasi Rp 306,1 triliun.
Seiring kinerja itu, keseimbangan primer mencetak surplus sebesar Rp 58,6 triliun, yang mengindikasikan fiskal masih cukup memadai untuk mengelola pendapatan, belanja, dan utang.
Defisit APBN Rp 180,4 Triliun pada Mei 2026
Sebelumnya, Kementerian Keuangan melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026 mengalami defisit sebesar Rp 180,4 triliun atau 0,70% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, di tengah kondisi tersebut, keseimbangan primer APBN masih mencatat surplus sebesar Rp 58,6 triliun. Purbaya menilai, capaian ini mencerminkan kondisi fiskal yang semakin berkelanjutan.
"Realisasi APBN sampai Mei 2026 terus menunjukkan positif," kata Purbaya, dalam konferensi pers APBN Kita, Jumat (5/6/2026).
Purbaya juga menegaskan, posisi tersebut masih jauh di bawah target defisit APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB.
Purbaya menambahkan, defisit APBN tetap dapat terjaga seiring dengan pengendalian penerimaan pajak dan bea cukai. Hingga Mei 2026, realisasi pendapatan negara telah mencapai 37,6% dari target APBN sebesar Rp 3.153 triliun.
Pendapatan negara hingga Mei 2026 mencapai Rp 1.185 triliun, tumbuh 19,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, nilai tersebut masih berada di bawah realisasi belanja negara pada periode yang sama.
Kontributor Terbesar
Kontributor terbesar pendapatan negara berasal dari penerimaan perpajakan yang mencapai Rp 958,2 triliun. Jumlah tersebut terdiri atas penerimaan pajak sebesar Rp 834,4 triliun dan penerimaan kepabeanan serta cukai senilai Rp 123,8 triliun.
Di luar sektor perpajakan, pemerintah membukukan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 226,4 triliun. Sementara itu, penerimaan yang berasal dari hibah tercatat sebesar Rp 0,4 triliun.
Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp 1.365,4 triliun atau tumbuh 34,4% dibandingkan Mei 2025. Nilai tersebut setara dengan 35,5% dari target belanja negara tahun ini sebesar Rp 3.842 triliun.
Dengan perkembangan tersebut, realisasi pembiayaan anggaran tercatat sebesar Rp 379,4 triliun hingga Mei 2026, meningkat 16,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 326,5 triliun.