Harga Perak Antam Hari Ini Turun Rp 500

Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) masih berada di bawah Rp 40.000 pada Senin, (29/6/2026). Penurunan harga perak Antam ikuti harga perak dunia.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 29 Juni 2026, 10:00 WIB
Harga perak (Ilustrasi perak-silver by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) merosot pada Senin, (29/6/2026). Penurunan harga perak Antam hari ini mengikuti harga perak dunia dan harga emas Antam.

Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini turun Rp 500 menjadi Rp 39.300. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam dipatok Rp 39.800.

Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,95%. Harga perak batangan 250 gram dipatok Rp 10.350.000. Sementara itu, harga perak batangan 500 gram dibanderol Rp 19.775.000.

Lalu bagaimana harga perak dunia?

Mengutip tradingeconomics.com, saat dipantau pukul 09.37 WIB, harga perak dunia turun 0,52% menjadi US$ 58,47.

Harga perak turun menjadi US% 58 per ons pada Senin pekan ini, mengakhiri kenaikan selama dua hari. Koreksi harga perak dunia dipicu serangan yang kembali terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz mendorong harga minyak dan kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi.

Konflik itu meningkat sejak Kamis pekan lalu. Iran menargetkan kapal kontainer, kapal yang membawa minyak Qatar, dan pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain, yang memicu beberapa serangan balasan AS. Namun, kedua pihak kemudian sepakat menangguhkan serangan lebih lanjut menjelang perdamaian yang akan dilanjutkan pekan ini di Doha, Qatar.

Sementara itu, data pekan lalu menunjukkan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) atau indikator yang mengukur perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dibeli konsumen di Amerika Serikat (AS) yang secara umum sesuai harapan.

Ini menyebabkan investor sedikit mengurangi taruhan pada kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) tahun ini. Pasar saat ini menunggu laporan pekerjaan bulanan AS terbaru dan PMI Manufaktur ISM untuk petunjuk lebih lanjut tentang prospek kebijakan moneter.

Prediksi Harga Emas Pekan Ini

Seorang karyawan memegang beberapa perhiasan emas di sebuah toko perhiasan di Banda Aceh. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Sebelumnya, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia dan logam mulia masih akan bergerak fluktuatif sepekan ke depan. Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global, mulai dari perkembangan geopolitik, dinamika politik di Amerika Serikat, kebijakan bank sentral, hingga perang dagang.

Ibrahim mengatakan, harga emas dunia pada penutupan perdagangan Sabtu pagi pekan lalu berada di level US$ 4.077 per troy ounce, sementara harga logam mulia ditutup di Rp 2.660.000 per gram. Menurut dia, dalam skenario pelemahan, harga emas dunia berpotensi turun hingga area support di US$ 3.786 per troy ounce, sedangkan logam mulia dapat melemah ke Rp 2.530.000 per gram.

"Jadi kesimpulannya untuk emas dunia dalam sepekan ke depan kemungkinan besar diperdagangkan di support US$ 3.786 per troy ounce, kemudian tertinggi ya resistennya di US$ 4.344 per troy ounce,” ujar Ibrahim dalam pernyataanya, Senin (29/6/2026)

Sementara itu, apabila harga emas menguat, Ibrahim memperkirakan emas dunia berpeluang menembus level resistance hingga US$ 4.344 per troy ounce. Sejalan dengan itu, harga logam mulia diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp 2.530.000 hingga Rp 2.750.000 per gram sepanjang pekan depan.

"Kemudian untuk logam mulianya, kemungkinan besar dalam sepekan itu Rp 2.530.000 per gram sampai di Rp 2.750.000 per gram,” jelasnya.

Ibrahim menjelaskan, fluktuasi harga emas dunia dan logam mulia masih akan sangat dipengaruhi oleh kondisi global. Menurutnya, fokus utama pasar saat ini tertuju pada ketegangan geopolitik, perkembangan politik di Amerika Serikat, kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat, serta potensi eskalasi perang dagang pada semester kedua tahun ini.

Ketegangan Timur Tengah

Ilustrasi harga emas dunia (Foto By AI)

Di sisi geopolitik, ia menyoroti meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah setelah insiden penyerangan terhadap kapal tanker serta aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat. Selain itu, konflik Rusia dan Ukraina juga masih menjadi faktor yang memengaruhi sentimen pasar global.

Sementara dari sisi Amerika Serikat, dinamika politik domestik, termasuk prospek Partai Republik di parlemen serta arah kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump, dinilai turut memengaruhi pergerakan aset-aset global. 

Di sisi lain, kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika juga masih menjadi perhatian investor setelah muncul indikasi bahwa suku bunga lebih berpeluang dipertahankan dibandingkan dinaikkan.

"Apa sih yang membuat harga-harga tadi yang saya sebutkan berfluktuatif? Yang pertama ini adalah masalah geopolitik, kebijakan perpolitikan di Amerika, kemudian kebijakan bank sentral, kemudian perang dagang,” tuturnya.

Menurut Ibrahim, kombinasi faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga emas dunia dan logam mulia dalam beberapa hari ke depan, di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi dan politik global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya