Liputan6.com, Belgrade - Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengumumkan akan mengundurkan diri dalam beberapa minggu mendatang dan membuka jalan bagi penyelenggaraan pemilihan presiden serta parlemen lebih awal.
Pengumuman itu disampaikan Vucic pada Sabtu di hadapan para pendukungnya dalam demonstrasi pro-pemerintah di Beograd, setelah berbulan-bulan tekanan akibat gelombang protes anti-pemerintah yang dipimpin mahasiswa, dikutip dari Japan Today, Minggu (28/6/2026).
Advertisement
"Saya hanya akan menjadi presiden selama beberapa minggu, dan kemudian saya akan mengundurkan diri," kata Vucic.Vucic telah berkuasa selama 13 tahun. Masa jabatan keduanya yang sekaligus menjadi periode terakhir seharusnya berakhir pada pertengahan 2027.
Protes Dipicu Tragedi Novi SadGelombang protes anti-korupsi di Serbia berlangsung selama sekitar satu setengah tahun dan dipicu oleh runtuhnya tenda di stasiun kereta api di Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang.
Mahasiswa dan kelompok oposisi menilai tragedi tersebut mencerminkan salah urus proyek konstruksi dan korupsi pemerintah yang lebih luas. Dalam beberapa hari terakhir, mahasiswa kembali menggelar aksi untuk mengenang para korban dan menuntut pemilihan umum sela.
Aksi unjuk rasa lanjutan dijadwalkan berlangsung pada Minggu di kota Kraljevo.
Pemilu Presiden dan Parlemen DipercepatVucic mengatakan akan membantu Partai Progresif Serbia memenangkan pemilihan presiden dan pemilihan parlemen dini yang semula dijadwalkan pada 2027.
Namun, ia belum menyebutkan tanggal pasti pengunduran dirinya maupun kapan parlemen akan dibubarkan. Pembubaran parlemen merupakan syarat untuk penyelenggaraan pemilu legislatif lebih awal.