Harga Lithium Bergejolak, CATL Pilih Jalan Lain

CATL telah menggelontorkan investasi hampir 10 miliar yuan atau sekitar US$1,5 miliar untuk riset dan pengembangan sel baterai sodium-ion

oleh Septian PamungkasDiterbitkan 26 Juni 2026, 16:13 WIB
CATL melakukan pengujian langsung di wilayah Yakeshi, Mongolia Dalam, yang dikenal memiliki kondisi bersalju dengan temperatur ekstrem. (Carnewschina )

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL), terus mempercepat pengembangan teknologi baterai alternatif untuk kendaraan listrik. Perusahaan tersebut menargetkan sebanyak 20.000 unit mobil listrik (electric vehicle/EV) akan menggunakan baterai sodium-ion sepanjang 2026.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi jalur ganda atau "lithium-sodium", yang dikembangkan CATL untuk mengurangi ketergantungan terhadap lithium di tengah fluktuasi harga bahan baku baterai global.

Pemilik sekaligus petinggi CATL, Ni Jun, mengungkapkan target ambisius tersebut dalam ajang Forum Ekonomi Dunia di Dalian, China. Menurutnya, pencapaian ini akan menjadi tonggak penting dalam mempercepat adopsi massal teknologi baterai alternatif untuk kendaraan listrik.

Dilansir dari CarNewsChina, CATL telah menggelontorkan investasi hampir 10 miliar yuan atau sekitar US$1,5 miliar untuk riset dan pengembangan sel baterai sodium-ion. Investasi besar tersebut menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menghadirkan teknologi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

CATL memperkenalkan baterai sodium-ion generasi terbarunya dengan nama Naxtra. Teknologi ini diklaim mampu bekerja optimal dalam kondisi cuaca ekstrem, mulai dari suhu -20 derajat Celsius hingga -30 derajat Celsius.

Kemampuan tersebut dinilai menjadi keunggulan bagi pasar kendaraan listrik di negara-negara dengan musim dingin, seperti Amerika Serikat, Kanada, hingga Jepang, yang selama ini menghadapi tantangan penurunan performa baterai akibat suhu rendah.

Untuk membuktikan ketangguhannya, CATL melakukan pengujian langsung di wilayah Yakeshi, Mongolia Dalam, yang dikenal memiliki kondisi bersalju dengan temperatur ekstrem.

Hasilnya, kendaraan listrik yang menggunakan baterai sodium-ion tersebut mampu melintasi jalan bersalju dan medan menanjak dengan performa yang tetap stabil.

Mengurangi Risiko Ketergantungan

Direktur Eksekutif Nature Finance di Oxford Sustainable Finance Group, Calvin Quek, menyebut pengujian tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perkembangan teknologi kendaraan listrik, khususnya untuk memperluas penggunaan baterai alternatif di berbagai kondisi iklim.

Pengembangan baterai sodium-ion juga didorong oleh tingginya volatilitas harga lithium di pasar global. Data menunjukkan harga lithium di China sempat melonjak hingga sekitar 190 persen dalam periode Juni tahun lalu hingga 20 April 2026.

Melalui strategi ini, CATL ingin memosisikan baterai sodium-ion sebagai alternatif yang mampu mengurangi risiko ketergantungan terhadap lithium sekaligus menjaga stabilitas biaya produksi kendaraan listrik.

Selain memiliki bahan baku yang lebih melimpah di berbagai belahan dunia, sodium juga dinilai berpotensi menghadirkan baterai yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.

CATL bahkan memproyeksikan harga baterai sodium-ion dapat menyamai baterai lithium-ion pada akhir tahun ini. Jika target tersebut tercapai, teknologi sodium-ion berpeluang menjadi salah satu solusi penting dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik secara global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya