Beda DPR dan Menkes soal AI Bantu Analisis Penyakit

Menkes Budi menanggapi usulan DPR terkait penggunaan AI dalam membantu pelayanan kesehatan di daerah-daerah yang kekurangan dokter.

oleh Delvira HutabaratDiterbitkan 25 Juni 2026, 17:21 WIB
Menkes Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR. (Liputan6.com/ Dok Kemenkes)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menanggapi usulan Wakil Ketua Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh, terkait penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dalam membantu pelayanan kesehatan di daerah yang masih kekurangan dokter

Budi menegaskan kehadiran dokter secara langsung masih dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan. "Yang secara fundamental harus dijawab adalah kekurangan dokter itu terjadi terutama di daerah-daerah terpencil. Itu yang harus dijawab," kata Budi di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Menurut Budi, teknologi seperti telemedicine, AI hanya dapat menjadi pelengkap layanan kesehatan. Namun, fokus utama pemerintah seharusnya adalah menambah jumlah dokter.

"Jangan sampai itu mengalihkan fokus kita atau perhatian kita untuk memperbanyak jumlah dokter dan mendistribusikan mereka ke daerah-daerah," ujarnya. 

Budi menegaskan, kehadiran dokter secara langsung adalah hal mutlak untuk melihat dan menyentuh pasien sebelum memberikan diagnosis.

"Karena dokter dan tenaga kesehatan, tenaga medis, kan mesti melihat, mesti menyentuh pasiennya juga," tuturnya.

Sebelumnya, Nihayatul Wafiroh mengusulkan penggunaan AI untuk membantu pelayanan kesehatan di daerah yang kekurangan dokter.

"Kekurangan dokter yang ada, ini kita ini sekarang sudah cukup banyak dibantu dengan adanya AI, Pak. Saya bukan orang medis, saya membayangkan mungkin sekarang ini kita banyak melihat banyak sektor yang sudah dibantu oleh AI," kata Nihayatul.            

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya