Liputan6.com, Jakarta - Transfer kekayaan sedang diberlangsung. Para ahli waris yang menerima triliunan dolar berencana akan menggunakan uang tersebut dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Menurut data dari UBS, diperkirakan ada sekitar US$ 83,5 triliun yang akan berpindah tangan dari generasi baby boomers dan para pengusaha lansia kepada anak-cucu mereka dalam dua dekade kedepan.
Advertisement
Keluarga miliarder sendiri diperkirakan akan mentransfer sekitar US$ 6,9 triliun pada tahun 2040 yang akan datang.
“Dunia sedang memasuki masa transfer kekayaan antar generasi” ungkap UBS, dikutip dari CNBC, Kamis (25/6/2026).
Menurut penjelasan para pakar kekayaan, generasi pertama kebanyakan membangun kekayaan mereka di sektor-sektor yang sangat mereka pahami seperti, bisnis keluarga, properti, atau saham blue-chip lokal.
Sebaliknya, anak-anak mereka cenderung mengejar pendidikan internasional, lebih mobile, dan lebih terbuka terhadap jenis investasi yang lebih luas.
“Generasi pertama adalah para pembangun,” ucap CEO dan Pendiri Legacy Wealth Advisor, Elizabeth Hart.
“Kekayaan mereka biasanya terikat pada satu kelas aset tunggal yang paling mereka pahami, biasanya berupa bisnis operasional keluarga atau saham blue-chip lokal.” lanjutnya.
“Sedangkan para pewaris muda biasanya cenderung melihat kekayaan menggunakan lensa dunia," ujar Hart.
Ia juga menambahkan bahwa mereka lebih terbuka terhadap investasi di berbagai kelas aset dan pasar.
Menurut Natixis Investment Managers, 53% Generasi milenial jauh lebih tertarik untuk mencari peluang di aset privat dibandingkan investor yang lebih tua. Sementara itu, 62% diantaranya cenderung mendiskusikan mata uang kripto dengan penasihat keuangan mereka, sementara 44% berencana untuk meningkatkan atau memulai investasi kripto dalam satu tahun ke depan.
Generasi muda ini juga terlihat lebih nyaman dengan resiko, Natixis menemukan 78% milenial di kawasan Asia-Pasifik menginginkan peluang mengalahkan pasar, dibanding 38% baby boomers yang bersedia mengambil resiko demi mendapatkan keuntungan lebih tinggi.
Uang Bukan Tujuan Akhir
Pendiri Prestel & Partner, Tobias Prestel, mengatakan bahwa generasi muda pemilik kekayaan saat ini melihat uang bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu.
"Sebagian besar orang tua melihat uang adalah segalanya dan lebih banyak uang itu lebih bagus. Namus, sebagian besar anak muda melihat uang hanyalah sebuah alat," tutur dia.
“Tahapan mereka adalah melihat bagaimana uang tersebut digunakan, bukan sekerdar dinikmati," lanjutnya.
Perubahan pola pikir ini memengaruhi kebiasaan belanja. Beberapa ahli waris muda lebih memprioritaskan pengalaman, mobilitas, dan gaya hidup internasional. Prestel juga mengatakan bahwa mereka lebih jarang mengoleksi mobil, dan memilih untuk mempunyai tempat tinggal di berbagai belahan dunia dipadukan dengan hobi bepergian dengan eksposur properti global.
UBS juga menemukan bahwa hampir dari setengah investor generasi yang akan datang sangat antusias untuk mempelajari tentang investasi berdampak dan berkelanjutan.
Transfer ini juga mengubah cara keluarga mengelola kekayaan. Pihak bank menemukan bahwa generasi baru melihat warisan adalah sebagai bentuk tanggung jawab.
“Saya dan saudara saya tidak menganggap warisan sebagai sesuatu yang akan kami dapatkan, melainkan sebagai tanggung jawab kami untuk bekerja sebaik yang ayah kami lakukan” ujar salah satu responden UBS.
Volume Kekayaan
Meskipun volume kekayaan yang berpindah tangan cukup besar, ini tidak akan menggagalkan proses transfer secara luas, penasihat keuangan mengatakan bahwa risiko terbesar terhadap pelestarian kekayaan seringkali datang dari keluarga itu sendiri.
"Keretakan yang terjadi bukanlah karena kekurangan uang, melainkan karena kurangnya komunikasi," kata Hart dari Legacy Wealth Advisors.
Banyak generasi pertama yang masih enggan melepaskan kekayaannya, terutama di Asia, di mana kekayaan sering dikaitkan dengan patriarki dan matriarki keluarga.
Sementara itu, ahli waris mulai menuntut transparansi yang lebih besar, perencanaan suksesi, dan struktur tata kelola atas aset keluarga.
"Bahkan dengan adanya rencana suksesi sekalipun, penghancur kekayaan terbesar adalah perselisihan keluarga," tambah Hart.
Seiring warisan berpindah, para penasihat keuangan mengatakan keberhasilan transfer ini semakin bergantung pada kesiapan ahli waris dalam menerima tanggung jawab dan bukan hanya sekedar penataan struktur aset.