Proyek RFCC Beroperasi, Pertamina Raup US$ 1 Juta per Hari

PT Pertamina saat ini tengah merampungkan proyek pembangunan residual fluid catalytic cracking yang berlokasi di Rifenery Unit di Cilacap.

oleh Septian DenyDiterbitkan 08 Januari 2014, 10:14 WIB
Sebagai salah satu upaya untuk mengurangi impor BBM, PT Pertamina (Persero) saat ini tengah merampungkan proyek pembangunan residual fluid catalytic cracking (RFCC) yang berlokasi di Rifenery Unit VI Cilacap, Jawa Tengah.

Proyek yang telah dimulai sejak Desember 2011 ini merupakan fasilitas yang dibangun untuk memperoleh nilai tambah maksimal bagi product bottom (ampas) dari minyak mentah yang telah diolah sebelumnya oleh Pertamina.

"Jadi ini diolah lagi menjadi produk bernilai tinggi seperti premium, LPG dan lain-lain. Selama ini produk buttom itu lagi ke IFO (industrial fuel oil) yang nilainya dibawah harga crude. Jadi kita berusaha mengolah produk yang harga jualnya biasa diatas harga beli crude," ujar Project Coordinator RFCC Cilacap Amir Siagian di Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (7/1/2014) malam.

Dengan adanya peningkatan nilai tambah ini, maka akan memperbesar produksi hasil olahan minyak mentah sehingga diharapkan akan mampu mengurangi impor BBM dan produk petrokimia. "Yang tadinya impor, dengan ini bisa dikurangi, salah satu tujuannya itu. Jadi impor itu bisa berkurang," lanjutnya.

Sementara itu Construction Manager RFCC Cilacap Adang Sutarsa memperkirakan besaran nilai tambah dari product bottom yang dihasilkan dengan adanya pengolahan pada fasilitas ini nantinya mampu mencapai US$ 1 juta per hari. "Harapannya bisa ada nilai tambah yang lebih tinggi lagi, makanya ini harus ngebut. Rencananya sudah lama, tetapi realisasinya memang baru sekarang," katanya.

Proyek yang menelan investasi sekitar US$ 1,2 miliar ini merupakan proyek terbesar yang dibangun oleh Pertamina pada saat ini. Proyek ini menggunakan Technology Licensor UOP dan Axens pada reaktornya. Proyek ini juga telah menyerap tenaga kerja hampir 5 ribu orang.

Selain itu, proyek yang menjadi bagian dari program pemerintah yaitu Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) ini diharapkan akan mampu meningkatkan produksi gasoline sebesar 1,9 juta kl per tahun. Selain itu, juga akan meningkatkan produksi LPG sebanyak 352 ribu ton per tahun dan mampu memproduksi produk propylene sebesar 142 ribu per tahun.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya