Saat AI Dipakai Bobol Pabrik dan Jaringan Energi, Seberapa Siap Ketahanan Siber Indonesia?

Di era AI, keamanan siber bukan lagi sekadar urusan teknis, melainkan pilar strategis dalam menjaga keberlangsungan ekonomi.

oleh IskandarDiterbitkan 24 Juni 2026, 14:00 WIB
Ilustrasi peretas atau hacker. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Akselerasi transformasi digital di Indonesia sukses mendorong modernisasi berbagai sektor industri. Namun, di balik efisiensi tersebut, ada tantangan besar yang mengintai. Sistem Operational Technology (OT) yang dulu terisolasi, kini kian terintegrasi dengan jaringan Information Technology (TI) perusahaan.

Konvergensi TI-OT ini memang mendongkrak produktivitas lewat pemantauan real-time. Sisi negatifnya, celah serangan siber ke infrastruktur kritis nasional otomatis makin terbuka lebar.

Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, menegaskan keamanan siber bukan lagi sekadar urusan teknis, melainkan pilar strategis dalam menjaga keberlangsungan ekonomi.

“Semakin banyak sistem industri terkoneksi, kian besar kebutuhan organisasi dalam memastikan transformasi digital berjalan seiring penguatan keamanan siber. Infrastruktur kritis tidak hanya mendukung bisnis, tapi juga layanan publik yang berdampak langsung pada masyarakat,” ujar Edwin, dikutip dari Antara, Rabu (24/6/2026).

Lanskap ancaman siber kini berevolusi masif. Pelaku kejahatan tidak lagi bergerak manual, melainkan mengandalkan otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI). Dampaknya, proses pengintaian jaringan hingga pemetaan aset korban kini hanya butuh hitungan menit.

Sektor infrastruktur kritis--seperti manufaktur, energi, dan transportasi--menjadi target utama karena efek domino yang ditimbulkan. Gangguan pada sektor ini dapat melumpuhkan rantai pasok dan aktivitas ekonomi makro.

Berhadapan dengan kecepatan serangan digital yang agresif, pendekatan keamanan konvensional yang bersifat reaktif dinilai sudah tidak lagi mumpuni.

Visibilitas, Segmentasi, dan Zero Trust

Menghadapi ancaman ini, Fortinet menyoroti tiga langkah mitigasi krusial bagi organisasi:

  • Visibilitas Menyeluruh: Banyak lingkungan OT belum memetakan perangkat dan pola komunikasi sistemnya secara utuh. Visibilitas komprehensif menjadi kunci utama mendeteksi anomali sebelum menjadi insiden serius.
  • Segmentasi Jaringan: Membatasi konektivitas antar-lingkungan operasional demi mencegah pergerakan lateral pelaku siber jika berhasil menembus akses awal.
  • Prinsip Zero Trust: Mengelola identitas secara ketat. Setiap pengguna dan perangkat wajib melalui verifikasi berkelanjutan dengan hak akses minimum sesuai kebutuhan operasional.

 

Melawan AI dengan AI

Di tengah kompleksitas ini, adopsi AI di kubu pertahanan menjadi mutlak untuk menandingi kecepatan penyerang. AI mampu menganalisis data jaringan skala raksasa secara real-time untuk mendeteksi anomali yang luput dari pemantauan manual.

Kendati demikian, implementasi teknologi canggih ini tetap harus diimbangi oleh kolaborasi lintas tim. Ego sektoral antara tim TI dan OT harus dilebur guna menciptakan strategi respons insiden yang terpadu.

Pada akhirnya, melindungi lingkungan OT bukan sekadar mencegah kebocoran data, melainkan menjaga urat nadi perekonomian dan ketahanan nasional.

"Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana mencegah serangan, melainkan bagaimana membangun visibilitas, intelijen, dan ketahanan agar organisasi tetap beroperasi dengan percaya diri," Edwin memungkaskan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya