Keir Starmer Mundur, Politikus Partai Konservatif: Dia Kehabisan Teman

Pengunduran diri Keir Starmer terjadi setelah berbulan-bulan menghadapi tekanan internal Partai Buruh dan hasil buruk dalam pemilihan lokal.

oleh Luqman RimadiDiterbitkan 22 Juni 2026, 23:47 WIB
PM Inggris Keir Starmer menyampaikan pernyataan soal rencana pengakuan Negara Palestina dari Downing Street Nomor 10 di London. (Dok. oleh Toby Melville via AP) 

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Majelis Tinggi Parlemen Inggris dari Partai Konservatif, Richard Balfe, menilai Perdana Menteri Inggris Keir Starmer kehilangan dukungan politik dan gagal menangani berbagai persoalan domestik menjelang pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh.

"Perdana Menteri Starmer telah kehabisan teman. Dia cukup baik dalam urusan luar negeri, tetapi sama sekali tidak mampu menangani isu-isu dalam negeri," kata Balfe dikutip dari RIA Novosti, Senin (22/6/2026).

Menurut Balfe, Starmer yang berlatar belakang sebagai pengacara hak asasi manusia dinilai tidak berhasil menjalankan sejumlah kebijakan dalam negeri sejak memimpin pemerintahan Inggris.

Pernyataan itu muncul setelah Starmer mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh yang berkuasa. Ia menyatakan proses pemilihan pemimpin baru akan dimulai pada 9 Juli dan ditargetkan rampung sebelum parlemen kembali bersidang pada September mendatang. Starmer akan tetap menjabat hingga penggantinya terpilih.

Pengunduran diri Starmer terjadi di tengah meningkatnya tekanan internal di Partai Buruh setelah serangkaian hasil pemilu yang mengecewakan.

Desakan 100 Anggota Parlemen Minta Stramer Mundur

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berjalan keluar dari 10 Downing Street, London, Senin, 20 April 2026. (Dok. AP/Alastair Grant, Arsip)

Lebih dari 100 anggota parlemen Partai Buruh dilaporkan mendesaknya mundur, sementara posisi politiknya semakin tertekan setelah Andy Burnham menguat sebagai calon penerus potensial.

Dalam pidato pengunduran dirinya, Starmer mengakui bahwa ia tidak lagi memiliki kepercayaan penuh dari partainya untuk memimpin menuju pemilihan umum berikutnya.

Ia menyatakan menerima keputusan tersebut dan akan memastikan proses transisi kepemimpinan berjalan tertib.

Meski menghadapi kritik di dalam negeri, sejumlah pengamat menilai Starmer mencatat beberapa keberhasilan dalam kebijakan luar negeri, termasuk diplomasi terkait Ukraina dan hubungan internasional Inggris. Namun, berbagai persoalan domestik, mulai dari ekonomi hingga menurunnya popularitas pemerintah, disebut menjadi faktor utama yang melemahkan posisinya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya