Liputan6.com, Paris - Sebagian besar negara di Eropa pada Senin (22/6/2026) bersiap menghadapi gelombang panas yang diperkirakan akan semakin ekstrem dalam beberapa hari ke depan.
Prancis mencatat korban jiwa terkait cuaca panas selama akhir pekan. Seorang peneliti terkemuka kembali menegaskan bahwa perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia turut berkontribusi terhadap gelombang panas pemecah rekor yang terjadi baru-baru ini.
Advertisement
Di Prancis, sebanyak 49 dari 96 wilayah administratif (departemen) di daratan utama negara itu berada dalam status peringatan cuaca merah, meningkat dari 35 wilayah pada akhir pekan. Demikian seperti dilaporkan CNA.
Pemerintah mengumumkan penutupan 845 sekolah pada Senin, sementara 1.800 sekolah lainnya dijadwalkan memulangkan siswa lebih awal dari biasanya.
Pada Minggu (21/6), sejumlah kota membatalkan festival musik tahunan mereka. Pemerintah juga melarang konsumsi alkohol di tempat umum dengan alasan kesehatan dan ketertiban umum di wilayah-wilayah yang telah berada dalam status peringatan cuaca merah.
Beberapa wilayah di Prancis mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius, kondisi yang tergolong ekstrem untuk bulan Juni. Di wilayah Gironde, Prancis barat daya, pejabat setempat mengatakan tiga warga berusia antara 80 hingga 95 tahun meninggal dunia dan panas ekstrem menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kematian mereka.
Badan prakiraan cuaca Prancis menyatakan gelombang panas saat ini berpotensi menjadi separah peristiwa pada Agustus 2003 yang menewaskan hampir 15.000 orang di negara tersebut.
Intens dan Datang Lebih Awal
Prancis dan Belgia sama-sama mengumumkan pengurangan layanan kereta api. Di Prancis, pengurangan layanan terutama berlaku untuk jalur komuter di Paris dan sekitarnya.
Perusahaan kereta nasional Belgia, SNCB, mengumumkan sejumlah perjalanan kereta pada jam sibuk dibatalkan pada Senin dan Selasa guna mengurangi risiko gangguan yang dapat menyebabkan jalur rel terhambat.
"Suhu di Belgia diperkirakan akan menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat di negara tersebut dalam pekan ini," kata kepala prakiraan cuaca di Institut Meteorologi IRM David Dehenauw.
Mathieu Lefevre, pejabat junior di Kementerian Ekologi Prancis, mengatakan gelombang panas kali ini "sangat intens dan datang sangat awal". Ia menambahkan, beberapa negara Eropa telah melaporkan suhu tertinggi untuk periode tersebut pada Mei lalu.
Akshay Deoras, peneliti senior di National Centre for Atmospheric Science, University of Reading, Inggris, mengatakan penyebab di balik rentetan rekor suhu panas tersebut sudah sangat jelas.
"Perubahan iklim yang didorong oleh aktivitas manusia telah menjadi landasan bagi peristiwa ini, dengan menambah panas di atmosfer dan membuat suhu ekstrem jauh lebih intens dibandingkan yang terjadi di masa lalu," ujarnya.
Badan Meteorologi Spanyol, Aemet, pada Minggu memperingatkan bahwa suhu akan berada pada tingkat yang "sangat tinggi" untuk ukuran musim, baik pada siang maupun malam hari, hingga Rabu. Suhu diperkirakan mencapai 44 derajat Celsius di beberapa wilayah.
"Suhu akan menurun pada Kamis, tetapi panas tetap akan terasa sangat intens," ungkap badan tersebut.
Pada Minggu, otoritas Madrid membatalkan acara nonton bareng kemenangan Spanyol atas Arab Saudi di Piala Dunia yang dijadwalkan digelar di layar raksasa karena cuaca panas yang ekstrem.
Rekor Suhu Juni di Inggris Diperkirakan Pecah
Di Inggris, Kepala Eksekutif Royal Meteorological Society Liz Bentley pada Senin memperkirakan rekor suhu tertinggi bulan Juni di negara itu akan terlampaui jauh, sebagaimana yang telah terjadi pada Mei lalu.
"Pekan depan akan menghadirkan gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan suhu kemungkinan mencapai 38 hingga 39 derajat Celsius," katanya. "Rekor suhu tertinggi bulan Juni saat ini adalah 35,6 derajat Celsius."
"Ini akan menyebabkan dua bulan berturut-turut, yaitu Mei dan Juni, di mana rekor suhu di Inggris terlampaui dengan selisih lebih dari 2 derajat Celsius," tambahnya.