Tunggal Jaya Investama Beli 10 Juta Saham IMPC

PT Tunggal Jaya Investama Tbk membeli saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) dengan harga Rp 1.778 per saham.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 22 Juni 2026, 06:00 WIB
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pemegang saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), yakni PT Tunggal Jaya Investama Tbk menambah kepemilikan saham IMPC pada pertengahan Juni 2026. Aksi beli saham IMPC tersebut untuk investasi.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Tunggal Jaya Investama membeli 10.000.000 saham IMPC dengan harga Rp 1.778 per saham. Dengan demikian, nilai pembelian saham IMPC mencapai Rp 17,78 miliar.

“Tujuan transaksi dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI, ditulis Senin, (22/6/2026).

Setelah transaksi pembelian saham IMPC, Tunggal Jaya Investama memiliki 37,83% saham IMPC atau setara 20,76 miliar saham. Sebelumnya, Tuggal Jaya Investama memiliki 37,81% saham IMPC atau setara 20,75 miliar saham.

Berdasarkan data Google Finance, harga saham IMPC ditutup naik 0,90% menjadi Rp 1.690 per saham. Harga saham IMPC berada di level tertinggi Rp 1.715 dan terendah Rp 1.555 per saham. Kapitalisasi pasar saham IMPC Rp 92,79 triliun.

Kinerja Kuartal I 2026

Sebelumnya, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menunjukkan kinerja keuangan yang kuat sepanjang kuartal I 2026. Pendapatan naik 25,4% dan laba tumbuh 32,9% hingga Maret 2026.

Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 29 April 2026, pendapatan perseroan tercatat mencapai Rp 1,2 triliun, naik 25,4% secara tahunan dari Rp 937 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini turut mendorong peningkatan laba bersih sebesar 32,9% menjadi Rp 203 miliar, dibandingkan Rp 152 miliar pada kuartal I 2025.

Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, profitabilitas juga mengalami perbaikan. Laba kotor meningkat 30,2% menjadi Rp 484 miliar dengan margin naik ke 41,2%. Laba usaha tumbuh 20,2% menjadi Rp 237 miliar, sementara margin laba bersih ikut menguat dari 16,3% menjadi 17,2%.

 

Permintaan Domestik

Ilustrasi Laporan Keuangan atau Laba Rugi. Foto: Freepik/ pch.vector

Kinerja operasional yang solid juga tercermin dari EBITDA yang naik 19,8% menjadi Rp 288 miliar. Di sisi struktur keuangan, perseroan berhasil memperbaiki rasio utang terhadap EBITDA dari 5,3x menjadi 2,4x, serta meningkatkan kemampuan pembayaran bunga yang tercermin dari rasio EBITDA terhadap bunga yang melonjak ke 26,3x.

Dari sisi neraca, total aset meningkat 13,8% menjadi Rp 5,17 triliun, sementara ekuitas melonjak 40,7% menjadi Rp 3,24 triliun. Pada saat yang sama, total liabilitas berhasil ditekan turun 13,8%, menunjukkan pengelolaan keuangan yang lebih sehat.

Kinerja positif ini terutama ditopang oleh permintaan domestik yang tetap kuat serta efektivitas strategi efisiensi yang dijalankan perseroan. Meski dihadapkan pada tantangan eksternal, perseroan tetap mempertahankan target kinerja tahun 2026 dengan pendapatan sebesar Rp 5,1 triliun dan laba bersih di atas Rp 700 miliar.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya