Iran Klaim Kembali Menutup Selat Hormuz

Iran dan Amerika Serikat (AS) memberikan pernyataan berbeda mengenai Selat Hormuz. Iran klaim kembali menutup jalur pelayaran itu.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 21 Juni 2026, 07:30 WIB
Matahari terbit di balik kapal tanker yang berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran.. (AP Photo/Asghar Besharati)

Liputan6.com, Jakarta - Iran kembali mengatakan, Selat Hormuz ditutup pada Sabtu, 20 Juni 2026. Selain itu, Iran juga memperingatkan kapal-kapal untuk menjauhi jalur pelayaran penting tersebut. Namun, Amerika Serikat (AS) membantah klaim itu. AS menyatakan, Selat Hormuz tetap dibuka.

Mengutip CNBC, Minggu (21/6/2026), di tengah kebingungan itu, Wakil Presiden AS JD Vance meninggalkan Washington untuk melakukan perjalanan ke Swiss. Ia melanjutkan negosiasi dengan Iran pada Minggu ini.

Ketegangan antara dua negara meningkat hanya beberapa hari setelah Teheran dan Washington mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik di kawasan itu.

Pengumuman oleh militer Iran dan Korps Garda Revolusi datang ketika para negosiator Iran bersiap melakukan perjalanan ke Swiss untuk pembicaraan tingkat teknis dengan pejabat AS yang dijadwalkan dimulai Minggu.

Laporan AP menyenutkan, komando militer gabungan Iran mengatakan penutupan selat tersebut sebagai tanggapan terhadap operasi militer Israel yang terus berlanjut di Lebanon dan apa yang digambarkan sebagai "itikad buruk" AS dan kegagalan untuk menegakkan komitmen dalam kerangka gencatan senjata. Televisi pemerintah Iran mengatakan "langkah-langkah selanjutnya telah direncanakan" jika apa yang disebutnya agresi berlanjut, menurut beberapa media.

Sebelumnya pada Sabtu, serangan Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk dua anak, lapor AP, mengutip otoritas Lebanon. Kantor Berita Nasional Lebanon yang dikelola pemerintah mengatakan tujuh orang masih terjebak di bawah reruntuhan di Nabatiyeh dan desa-desa terdekat setelah serangan tersebut.

Militer AS mengatakan, Selat Hormuz belum ditutup. Pasukan AS disebutkan sedang memantau situasi untuk memastikan selat tersebut tetap terbuka. Demikian laporan Reuters.

"Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz,” kata juru bicara Komando Pusat AS, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins kepada Reuters.

"Lalu lintas terus mengalir, dan pasukan AS sedang memantau situasi untuk memastikan hal ini tetap demikian," ia menambahkan.

 

 

Trump Beri Sinyal Selat Terbuka untuk Lalu Lintas

Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Presiden Donald Trump juga mengindikasikan pemerintah menganggap selat tersebut terbuka untuk lalu lintas. Ia menyarankan, AS dapat mulai mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz jika kedua pihak gagal mengubah perjanjian sementara menjadi kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari.

"Tidak akan ada biaya tol di Selat Hormuz selama 60 hari selama Periode Gencatan Senjata, dan tidak akan ada biaya tol setelah periode 60 hari berakhir, kecuali jika dikenakan oleh dan untuk Amerika Serikat, jika kesepakatan tersebut tidak diselesaikan,” katanya dalam sebuah unggahan Truth Social pada Sabtu malam.

Ia mengklaim, biaya tersebut akan dikenakan untuk “jasa yang diberikan.”

Upaya Iran untuk menutup kembali selat tersebut meningkatkan taruhan menjelang pembicaraan di Swiss, yang dimaksudkan untuk memajukan perjanjian sementara yang dicapai pada Rabu antara Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Hal ini setelah hampir empat bulan perang.

Memorandum of understanding yang ditandatangani menyerukan penghentian segera aksi militer oleh Israel di Lebanon dan pembukaan kembali selat sepenuhnya tanpa biaya tol yang dikenakan oleh Iran selama 60 hari.

Vance dan Delegasi Iran Menuju Swiss

Vance berangkat Sabtu malam untuk melakukan perjalanan ke Swiss guna melanjutkan negosiasi dengan delegasi Iran, serta mediator dari Pakistan dan Qatar.

Wakil presiden berharap untuk “membuat kemajuan dalam isu nuklir” dan “masalah gencatan senjata Lebanon.”

“Meskipun ada berita utama, keadaan sebenarnya ‌menjadi lebih baik di sana (di Lebanon), dan keadaannya sedikit melambat,” katanya.

“Ini ⁠akan menjadi sesuatu yang ‌kami harus ‌terus kelola untuk memastikan bahwa Anda tahu bahwa Israel dan ⁠Lebanon aman dan terlindungi,” ia menambahkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya