BI Rate Naik, Begini Cara Aman Mengelola Utang

Perencana keuangan menilai, kenaikan suku bunga acuan jadi momen selektif ambil kredit dan menempatkan dana.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 20 Juni 2026, 21:30 WIB
Beli Tiket Konser Coldplay sebagai Self Reward, Awas Kebablasan Jadi Utang Konsumtif. Ilustrasi kartu kredit. Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dinilai perlu direspons dengan penyesuaian strategi keuangan pribadi. Perencana keuangan independen, Andy Nugroho menyarankan, masyarakat lebih berhati-hati dalam mengambil utang baru karena berpotensi menghadapi beban bunga yang lebih tinggi.

Menurut Andy, langkah yang dapat dilakukan saat ini adalah menunda, mengurangi, atau bahkan menghindari pengajuan kredit bank maupun pembelian secara cicilan jika belum benar-benar mendesak.

“Ketika suku bunga naik, biaya pinjaman juga cenderung meningkat. Karena itu, masyarakat perlu lebih selektif sebelum mengambil kredit baru agar tidak terbebani cicilan yang lebih besar di kemudian hari,” ujar Andy kepada Liputan6.com, Sabtu (20/6/2026).

Ia juga mengingatkan calon pembeli rumah untuk mencermati kembali rencana pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR). Dia menuturkan, perubahan suku bunga dapat memengaruhi besaran cicilan yang harus dibayar setiap bulan.

Andy menyarankan, calon debitur meminta simulasi terbaru dari pengembang maupun pihak bank terkait skema pembiayaan yang akan digunakan.

“Pastikan perhitungan bunga yang digunakan sudah mengikuti kondisi terkini. Dari situ bisa dilihat apakah cicilan bulanan masih sesuai kemampuan keuangan atau justru sudah melampaui anggaran yang disiapkan,” katanya.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga membuka peluang bagi masyarakat yang ingin menempatkan dana pada instrumen investasi berisiko rendah hingga menengah. Andy menilai, deposito dan obligasi menjadi pilihan menarik karena menawarkan imbal hasil yang cenderung meningkat seiring naiknya suku bunga.

“Untuk investor yang mengutamakan stabilitas dan pendapatan berkala, deposito maupun obligasi bisa menjadi alternatif karena tingkat bunganya saat ini ikut bergerak naik,” ujarnya.

BI Rate Melonjak, Cicilan Kredit Rumah hingga Kendaraan Bakal Naik

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencermati dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate terhadap daya beli masyarakat. Terutama pada aspek beban kredit masyarakat.

Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani menilai, ada dampak kenaikan BI Rate jadi 5,5 persen terhadap beban kredit masyarakat. Ini bisa berpengaruh ke besaran bunga kredit pemilikan rumah (KPR) maupun kendaraan.

"Kenaikan suku bunga tentu berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat karena beban cicilan rumah, kendaraan, maupun kredit konsumsi dapat meningkat. Ketika konsumsi rumah tangga melambat, maka sektor usaha yang bergantung pada permintaan domestik juga akan terdampak," kata Shinta saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (9/6/2026).

Dia menilai, dampak terbesar imbas kenaikan BI Rate pada sektor-sektor yang sangat bergantung pada pembiayaan kredit dan konsumsi masyarakat berbasis cicilan. 

 

Sektor Usaha

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani masih menunggu pengumuman resmi pemerintah soal hitungan kenaikan upah minimum provinsi atau UMP 2026. Pasalnya, masih ada diskusi antara keinginan pengusaha dan kalangan buruh.

Seperti properti dan real estate, otomotif, konstruksi, manufaktur padat modal, sektor consumer durable, serta UMKM yang bergantung pada modal kerja perbankan akan merasakan dampak yang cukup signifikan.

"Di sektor properti misalnya, kenaikan bunga KPR berpotensi menahan permintaan rumah, khususnya kelas menengah. Sementara di sektor otomotif, kenaikan bunga kredit kendaraan dapat memengaruhi keputusan pembelian konsumen," tutur dia.

Selain itu, sektor industri yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor juga menghadapi tekanan ganda. Yaitu biaya impor yang meningkat akibat pelemahan Rupiah sekaligus biaya pembiayaan yang naik. "Kondisi ini dapat mempersempit margin usaha dan menekan kemampuan perusahaan untuk melakukan ekspansi," ujar dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya