Liputan6.com, Jakarta - Sepanjang 2026, harga bitcoin (BTC) masih lesu. Lalu bagaimana prediksi harga bitcoin versi dua pendiri perusahaan kripto yakni CEO Coinbase Brian Armstrong dan pendiri Binance Changpeng Zhao?
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Sabtu, (20/6/2026), harga bitcoin mencapai level tertinggi US$ 126.000 atau Rp 2,24 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di 17.820) pada Oktober 2025.
Advertisement
Lonjakan harga bitcoin pada 2025 didorong kenaikan arus masuk exchange traded fund (ETF) spot, adopsi institusional, dan optimisme yang meningkat seputar regulasi yang lebih ramah. Namun, investor menekan tombol jeda yang mempengaruhi harga bitcoin.
Berdasarkan data Coinmarketcap, harga bitcoin naik 1,55% dalam 24 jam terakhir saat dipantau Sabtu, 20 Juni 2026, pukul 11.39 WIB. Sedangkan selama sepekan terakhir. Harga bitcoin menyentuh USD 63.482 atau Rp 1,13 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.820).
Analis menilai, koreksi harga bitcoin dipicu sejumlah faktor. Valuasi yang terlalu tinggi, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan pasar yang semakin sensitive terhadap harapan suku bunga membebani harga bitcoin.
"Bitcoin cenderung bersifat siklikal, dan arus masuk jangka pendek yang lebih rendah tidak memengaruhi tesis penyimpanan nilai jangka panjang kami,” ujar Analis Bernstein Gautam Chhugani.
Ia menuturkan, bitcoin masih dapat menawarkan diversifikasi dari pasar momentum tunggal yang tidak biasa yang didorong oleh artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Namun, pembeli telah kembali ragu-ragu seiring meredanya ketegangan atas perang Iran dan optimisme mengenai prospek arus ETF kembali naik.
Lalu apa tanggapan CEO dan salah satu pendiri Coinbase Brian Armstrong dan pendiri Binance Changpeng Zhao soal kondisi bitcoin saat ini?
Respons Brian Armstrong dan Changpeng Zhao
Pendiri dan CEO Coinbase Brian Armstrong menuturkan, jika melihat tren masa lalu, indeks ketakutan dan keserakahan, jika hanya melihat tren masa lalu di bitcoin, harga akan mencapai titik terendah US$ 60.000 atau Rp 1,06 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.820).
"Banyak hal yang dapat mendorong pertumbuhan bitcoin di sini. Saya pikir struktur pasar, pengesahan undang-undang, saya pikir beberapa perusahaan AI ini akan go public, karena mereka telah menyerap banyak modal risiko. Jadi begitu perusahaan-perusahaan ini go public, dan pembukaan pasar terjadi, saya pikiar Anda akan mulai melihat modal bergerak kembali,” kata dia.
Sementara itu, Pendiri Binance, Changpeng Zhao menuturkan, siklus musim dingin akan selalu datang dan pergi. Namun, industri ini terus berkembang.
"US$ 60.000 untuk bitcoin, menurut kami sangat rendah. Semua orang panik, tetapi musim dingin lalu, empat tahun lalu harganya US$ 16.000. Saya pikir kita hanya membutuhkan lebih banyak aplikasi, lebih banyak kasus penggunaan. Saya pikir semakin banyak penggunaan yang akan datang. Orang-orang sedang mengembangkannya,” tutur dia.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.