Sumatera Barat Jadi Simpul Pengembangan Jalur Kereta Api di Tanah Andalas

Sumatera Barat menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan panjang perkeretaapian di Pulau Sumatera.

oleh Septian DenyDiterbitkan 19 Juni 2026, 18:40 WIB
Perjalanan Kereta Api di Sumatera. (Dok. Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Di Sumatera Barat, rel kereta api menyimpan cerita tentang batu bara Ombilin, Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur, Lembah Anai, Sawahlunto, Pariaman, hingga perjalanan masyarakat dari rumah menuju sekolah, kampus, tempat kerja, bandara, dan kawasan wisata.

Cerita itu kini menemukan konteks baru dalam gagasan besar penguatan konektivitas rel di Pulau Sumatera. Pemerintah melalui arahan Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan jaringan kereta api yang lebih terhubung dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung.

Dalam peta besar tersebut, Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah penting karena memiliki sejarah rel yang panjang, aset prasarana yang luas, serta layanan yang masih berperan langsung bagi masyarakat.

Sumatera Barat menjadi salah satu ruang penting untuk membaca perjalanan panjang perkeretaapian di Tanah Andalas. Di wilayah ini, rel menghubungkan titik keberangkatan dan tujuan, sekaligus menyimpan jejak tambang batu bara Ombilin, Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur, Sawahlunto, Lembah Anai, Pariaman, serta perubahan cara masyarakat bergerak dari masa ke masa.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Sumatera Barat memiliki posisi unik dalam sejarah perkeretaapian nasional. Rel di wilayah ini lahir dari kebutuhan menghubungkan tambang, pelabuhan, kota, dan masyarakat. Dalam perkembangannya, jalur yang sama juga menjadi bagian dari mobilitas harian, akses wisata, dan distribusi barang.

“Sumatera Barat menunjukkan bagaimana kereta api sejak awal menjadi penghubung ekonomi, kota, pelabuhan, dan masyarakat. Jejak itu tetap relevan untuk membaca kebutuhan konektivitas Sumatra hari ini,” ujar Anne, Jumat (19/6/2026).

Berdasarkan data prasarana Divre II Sumatera Barat, total panjang jalur kereta api di wilayah tersebut mencapai 312,232 kmsp. Kmsp merupakan singkatan dari kilometer spoor, yaitu satuan untuk menghitung panjang jalur rel kereta api.

 

 

Jalur Rel Sumatera Barat

PT KAI meningkatkan perjalanan kereta BBM dari dua menjadi empat perjalanan per hari di wilayah bencana Sumatera. (Dok KAI)

Dengan kata lain, Sumatera Barat memiliki sekitar 312,2 kilometer jalur rel. Dari jumlah tersebut, 110,910 kmsp atau sekitar 110,9 kilometer merupakan jalur aktif, sedangkan 201,322 kmsp atau sekitar 201,3 kilometer merupakan jalur nonaktif. Wilayah ini juga memiliki 20 stasiun dan shelter angkutan penumpang, serta 4 stasiun angkutan barang.

Saat ini, layanan penumpang di Sumatera Barat mencakup KA Pariaman Ekspres relasi Pauh Lima–Padang–Naras, KA Minangkabau Ekspres relasi Pulau Air–Padang–Bandara Internasional Minangkabau, KA Lembah Anai relasi Kayu Tanam–Duku–Padang, serta KA wisata Mak Itam relasi Muarokalaban–Sawahlunto yang beroperasi menyesuaikan kebutuhan layanan wisata sejarah. Untuk layanan barang, KAI melayani relasi Indarung–Bukit Putus guna mendukung distribusi semen curah dan klinker.

Kinerja layanan tersebut menunjukkan bahwa kereta api masih menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat Sumatera Barat. Pada Januari–Mei 2026, layanan kereta api penumpang di Divre II Sumatera Barat melayani 913.674 pelanggan. Rinciannya, 172.548 pelanggan pada Januari, 151.768 pelanggan pada Februari, 188.425 pelanggan pada Maret, 202.282 pelanggan pada April, dan 198.651 pelanggan pada Mei.

Di sisi barang, KAI di wilayah Divisi Regional II Sumatra Barat melayani 492.220 ton angkutan pada Januari–Mei 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 299.070 ton semen dan 193.150 ton klinker. Angkutan berbasis rel berperan menjaga kelancaran distribusi industri, mengurangi beban kendaraan berat di jalan raya, serta mendukung rantai pasok dari kawasan produksi menuju titik distribusi.

 

 

 

Pasar Kereta Api

Ilustrasi kereta api.

Kinerja dalam lima tahun terakhir juga menunjukkan bahwa pasar kereta api di Sumatera Barat sudah terbentuk. Volume pelanggan Divre II Sumatera Barat meningkat dari sekitar 1,09 juta pelanggan pada 2021 menjadi 1.978.241 pelanggan pada 2025. Dalam periode 2021–2025, pertumbuhan pelanggan mencapai sekitar 81 persen, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 16 persen per tahun. Angka ini memperlihatkan bahwa minat masyarakat terhadap kereta api di Sumatera Barat terus menguat.

KA Pariaman Ekspres menjadi salah satu contoh layanan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pada 2025, pelanggan KA Pariaman Ekspres mencapai 1.615.996 pelanggan, naik 15,61 persen dibanding 2024 sebanyak 1.399.691 pelanggan. Layanan ini menghubungkan kawasan permukiman, pusat kota, kampus, dan destinasi wisata pesisir yang menjadi salah satu tujuan perjalanan masyarakat pada akhir pekan.

KA Lembah Anai juga menunjukkan respons positif setelah perubahan relasi layanan. Pada Januari 2026, pelanggan KA Lembah Anai mencapai 24.607 pelanggan, naik dibanding Januari 2025 sebanyak 9.932 pelanggan.

Pada Februari 2026, jumlahnya mencapai 22.136 pelanggan, naik dari 7.270 pelanggan pada Februari 2025. Pada Maret 2026, pelanggan mencapai 28.515 pelanggan, naik dari 6.363 pelanggan pada Maret 2025. Perubahan ini menunjukkan bahwa penyesuaian layanan dapat memperluas akses dan meningkatkan minat masyarakat menggunakan kereta api.

Anne menjelaskan, kekuatan kereta api di Sumatera Barat terletak pada kedekatannya dengan ruang hidup masyarakat. KA Pariaman Ekspres menghubungkan permukiman, pusat kota, kampus, dan kawasan wisata pesisir. KA Minangkabau Ekspres menghubungkan Kota Padang dengan Bandara Internasional Minangkabau. KA Lembah Anai membuka akses ke Kayu Tanam dan kawasan sekitarnya. Sementara Mak Itam menjaga memori Sawahlunto sebagai kota tambang bersejarah dan bagian dari warisan dunia.

“Kereta api di Sumatera Barat dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia melayani perjalanan harian, akses bandara, wisata, sekaligus mendukung distribusi barang,” kata Anne.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya