Menanti Putusan MSCI, Sederet Saham Ini Menarik Dicermati

Intip sederet saham yang menarik dipantau jelang pengumuman MSCI.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 18 Juni 2026, 19:30 WIB
Seorang pria melihat ponselnya di depan layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Intip sederet saham yang menarik dipantau jelang pengumuman MSCI. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada dua agenda penting dari MSCI, yakni hasil Market Accessibility Review dan Market Classification Review yang akan menjadi penentu apakah Indonesia tetap mempertahankan status sebagai pasar berkembang (Emerging Market/EM) atau menghadapi risiko penurunan klasifikasi.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan, dalam skenario tersebut, saham yang paling menarik dicermati adalah saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi "wajah Indonesia" di mata investor global. Kelompok pertama tentu sektor perbankan, terutama Bank Central Asia, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Mandiri.

"Ketiga saham ini memiliki likuiditas tinggi, fundamental yang relatif kuat, serta menjadi tujuan utama dana asing ketika sentimen terhadap Indonesia membaik," kata Hendra kepada Liputan6.com, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, jika status Emerging Market dipertahankan, investor global akan lebih nyaman mempertahankan atau menambah eksposur pada saham-saham tersebut karena dianggap sebagai representasi paling aman dari pertumbuhan ekonomi nasional.

"Dalam banyak episode arus masuk dana asing sebelumnya, sektor perbankan hampir selalu menjadi penerima manfaat pertama karena ukuran kapitalisasi dan kemudahan transaksi yang besar," ujarnya.

Selain perbankan, Telkom Indonesia layak diperhatikan karena menjadi salah satu saham dengan bobot besar dan memiliki karakter defensif. Ketika ketidakpastian berkurang, investor asing biasanya mencari kombinasi antara pertumbuhan dan kestabilan laba, dan TLKM menawarkan keduanya melalui bisnis telekomunikasi serta ekosistem digital.

Di sektor konsumsi dan ekonomi domestik, Astra International juga berpotensi memperoleh perhatian karena dianggap sebagai proksi pertumbuhan kelas menengah Indonesia. Jika persepsi risiko Indonesia membaik, saham yang terkait langsung dengan konsumsi domestik biasanya ikut memperoleh premi valuasi yang lebih tinggi.

 

Investor Harus Cermati Hasil Pengumuman MSCI

Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Namun, kata Hendra, investor juga perlu memahami bahwa potensi kenaikan harga saham tidak bisa dihitung secara sederhana hanya dari hasil pengumuman MSCI. Besarnya kenaikan akan sangat bergantung pada seberapa besar dana asing yang masuk dibandingkan dengan likuiditas masing-masing saham.

Oleh karena itu, menyebut angka pasti seperti naik 10 persen atau naik 20 persen tanpa data arus dana yang terverifikasi justru berisiko menyesatkan. Yang lebih realistis adalah melihat urutan sensitivitasnya.

"Saham-saham bank besar umumnya menjadi penerima manfaat utama karena memiliki bobot terbesar dalam portofolio investor asing. Setelah itu menyusul saham-saham blue chip nonperbankan seperti TLKM dan ASII," ujarnya.

Sementara saham-saham yang sebelumnya terdampak isu MSCI terkait konsentrasi kepemilikan kemungkinan memerlukan waktu lebih lama untuk kembali memperoleh kepercayaan investor global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya