Jelang Putusan MSCI, Analis Yakin Indonesia Bertahan di Emerging Market

MSCI akan merilis hasil peninjauan status pasar saham Indonesia. Analis menilai peluang Indonesia bertahan di kategori emerging market masih sangat besar.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 18 Juni 2026, 10:20 WIB
Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta. MSCI akan merilis status pasar saham Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan merilis status pasar saham Indonesia apakah masih di pasar negeri berkembang atau emerging markets atau masuk frontier market.

Sebelumnya, pada pengumuman MSCI 21 Mei 2026 disebutkan, MSCI akan merilis hasil Tinjauan Aksesibilitas Pasar Global MSCI 2026 pada Kamis 18 Juni 2026 waktu setempat.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai peluang Indonesia untuk tetap bertahan dalam kategori pasar berkembang (emerging market) versi MSCI dinilai masih cukup besar.

Ia mengatakan secara probabilitas Indonesia masih memiliki peluang untuk mempertahankan status emerging market. Optimisme tersebut didukung oleh komitmen regulator dalam melakukan pembenahan pasar modal sebagai respons atas sejumlah catatan yang sebelumnya disampaikan MSCI.

"Secara probabilitas Indonesia masih berpeluang untuk bertahan di emerging market. Hemat saya demikian karena apa? Karena faktor pendorong utamanya itu berkaitan dengan reformasi pasar modal. Komitmen OJK maupun juga SRO dalam menegakkan reformasi pasar modal di tanah air," kata Nafan kepada Liputan6.com, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, berbagai langkah perbaikan yang digulirkan regulator merupakan respons terhadap kekhawatiran MSCI yang sempat mencuat melalui kebijakan dynamic interim freeze policy pada awal tahun. Reformasi tersebut mencakup penguatan transparansi pasar, penyempurnaan klasifikasi investor, hingga implementasi High Shareholding Concentration (HSC).

 

Reformasi Pasar Modal Jadi Modal Utama

MSCI akan merilis status pasar saham Indonesia apakah masih di pasar negeri berkembang atau emerging markets atau masuk frontier market. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Nafan menjelaskan bahwa salah satu langkah konkret yang mendapat perhatian adalah upaya peningkatan free float saham. Target kepemilikan saham publik minimal 15% dinilai sejalan dengan standar aksesibilitas pasar yang menjadi salah satu parameter utama dalam penilaian MSCI.

Selain itu, komunikasi yang terus dijalin antara otoritas pasar modal Indonesia dengan MSCI juga menjadi sinyal positif bagi investor global. Dialog yang berlangsung secara aktif menunjukkan komitmen Indonesia dalam melakukan perbaikan struktural secara berkelanjutan.

Menurut Nafan, langkah tersebut penting untuk meningkatkan kepercayaan investor internasional terhadap pasar modal Indonesia. Pasalnya, reformasi tidak hanya dinilai dari sisi kebijakan yang diterbitkan, tetapi juga efektivitas implementasinya di lapangan.

"Jadi, insya Allah tentunya klasifikasi emerging market di Indonesia misalnya bagi MSCI itu juga masih tetap dipertahankan seperti itu," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya