Perusahaan Vietnam Perkuat Posisi di Daftar Fortune Southeast Asia 500

Fortune mencatat pendapatan perusahaan-perusahaan Vietnam naik 10,5% dalam daftar Fortune Southeast Asia 500.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 17 Juni 2026, 21:00 WIB
ilustrasi bendera Vietnam (AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Fortune mengumumkan peringkat Fortune Southeast Asia 500 pada 2026, yang berisi daftar tahunan ketiga berisi perusahaan-perusahaan terbesar di kawasan Asia Tenggara. Daftar itu diurutkan berdasarkan pendapatan untuk tahun fiskal 2025.

Dalam daftar Fortune, selama tiga tahun berturut-turut, Trafigura Group menduduki peringkat teratas dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 tahun 2026. Trafira Group berada di peringkat pertama dengan pendapatan US$ 240,3 miliar atau Rp 4.266 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.750).

Diikuti perusahaan energi milik Thailand, yakni PTT dengan menduduki peringkat dua. Nilai pendapatan PTT mencapai US$ 81 miliar atau Rp 1.438 triliun. Disusul berada di peringkat tiga yakni Pertamina dari Indonesia. Nilai pendapatan Pertamina mencapai US$ 70,9 miliar atau Rp 1.258 triliun.

Selain itu, Fortune juga mencatat Vietnam menjadi negara dengan pertumbuhan paling menonjol dalam peringkat Fortune Southeast Asia 500. Total pendapatan 72 perusahaan Vietnam mencapai US$ 177,9 miliar atau Rp 3.158 triliun. Pendapatan itu naik 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya, tiga kali lipat dari rata-rata pertumbuhan regional. Demikian mengutip keterangan resmi, Rabu, (17/6/2026).

Meskipun kontribusi perusahaan-perusahaan Vietnam terhadap total pendapatan di peringkat ini kurang dari 10%, perusahaan itu menyumbang sekitar seperempat dari total pertumbuhan pendapatan tahun ini di seluruh peringkat.

Salah satu perusahaan Vietnam yang pertama kali masuk daftar Southeast Asia 500 tahun 2026 yakni Vietnam National Chemical Group (Vinachem).

Berdasarkan daftar terbaru Fortune, Vinachem berada di peringkat ke-148 di antara 500 perusahaan teratas Asia Tenggara pada 2026. Peringkat ini disusun memakai indikator keuangan utama termasuk pendapatan, laba, aset. Selain itu juga mencakup perusahaan dari tujuh ekonomi regional antara lain Vietnam, Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina dan Kamboja.

Berdasarkan penilaian Fortune, Vinachem mencatat pendapatan US$ 2,4 miliar atau Rp 42,6 triliun dan laba sebesar US$ 146 juta atau Rp 2,59 triliun. Direktur Vinachem, Nguyen Huu Tu menuturkan, pencapaian ini adalah hasil dari implementasi Resolusi Nomor 79-NQ/TW pada 6 Januari 2026 yang dikeluarkan oleh Politbiro mengenai pengembangan sektor ekonomi milik negara. Resolusi itu menetapkan target untuk memiliki 50 perusahaan milik negara di antara 500 perusahaan teratas di Asia Tenggara pada 2030.

 

 

Perusahaan Vietnam

(Foto: Ilustrasi dolar AS, investasi, uang. Dok Unsplash/Pepi Stojanovski)

 

Mengutip vietnamplus, ke depan, Vinachem telah mengidentifikasi inovasi, transformasi digital, transisi hijau, dan pembangunan berkelanjutan sebagai pendorong pertumbuhan utamanya. Grup ini berencana untuk memprioritaskan sektor-sektor bernilai tinggi dan intensif teknologi, termasuk bahan kimia untuk industri elektronik dan semikonduktor, ekstraksi logam tanah jarang, farmasi, dan material canggih.

Perusahaan juga bermaksud untuk memperluas investasi di pusat penelitian dan pengembangan (R&D) dan mengembangkan kawasan industri modern, sirkular, dan berkelanjutan, dengan tujuan memperkuat daya saing industri kimia Vietnam dalam rantai nilai regional dan global.

Adapun ambang batas pendapatan untuk Fortune Southeast Asia 500 tahun 2026 naik menjadi US$ 440,6 juta atau Rp 7,8 triliun, meningkat 26% dibanding tahun lalu. 500 perusahaan tersebut bersama-sama menghasilkan pendapatan US$ 1,878 triliun untuk tahun fiskal 2025, naik 3,4% dari angka yang sebanding dalam daftar yang diterbitkan tahun lalu, dengan laba gabungan sebesar US$ 150 miliar atau Rp 2.663 triliun.

Dominasi perusahaan-perusahaan teratas masih sangat kuat: lima perusahaan teratas mencatatkan pendapatan sebesar US$ 14,1 miliar atau Rp 250,3 triliun (27,4% dari total); sedangkan 20 perusahaan teratas mencatatkan US$ 850,4 miliar atau Rp 15.097 triliun (45,3%).

Editorial Director kawasan Asia, Andrew Staples menuturkan, hal paling jelas terlihat di Southeast Asia 500 tahun ini adalah Asia Tenggara mulai melepaskan diri dari identitasnya yang bergantung pada komoditas.

“Kekuatan utama dunia usaha di kawasan ini semakin bergeser ke sektor keuangan, teknologi, dan kelompok baru perusahaan unggulan nasional,” ujar Andrew dikutip dari keterangan resmi, Rabu, (17/6/2026).

Adapun edisi keempat pada 2027 akan mengungkapkan apakah 2026 menjadi awal pergeseran nyata dalam peta kekuatan perusahaan Asia Tenggara, atau hanya menjadi tahun yang sangat menguntungkan bagi kelompok perusahaan baru di kawasan ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya