Rupiah Lesu terhadap Dolar AS Jelang Keputusan The Fed

Hasil rapat bank sentral AS atau the Fed membayangi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 17 Juni 2026, 19:40 WIB
Teller menunjukkan uang dolar dan rupiah di penukaran uang di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tertekan hingga penutupan perdagangan Rabu, (17/6/2026). Analis menilai, tekanan rupiah terhadap dolar AS masih dipengaruhi perkembangan kesepakatan AS dan Iran.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 37 poin atau 0,21% menjadi 17.762 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya 17.725 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menuturkan, pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal dan domestik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah muncul optimisme terkait kesepakatan yang bertujuan meredakan konflik di Timur Tengah.

"Kesepakatan tersebut, yang mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran untuk melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata sementara negosiasi berlanjut," kata Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, (17/6/2026), dikutip dari Antara.

Meski demikian, ketidakpastian masih tinggi karena proses pemulihan produksi energi diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Selain itu, sikap Israel yang belum sepenuhnya mendukung kesepakatan tersebut menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata.

Pelaku pasar juga menanti hasil rapat kebijakan bank sentral AS atau The Federal Reserve (the Fed).

The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan, tetapi investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan arah kebijakan moneter ke depan, termasuk peluang penurunan suku bunga pada akhir tahun.

Ibrahim menuturkan, bank sentral secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga, tetapi investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan apa yang disebut 'plot titik' untuk petunjuk tentang jalur kebijakan di masa depan.

"Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apa pun tentang apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran di akhir tahun ini," tutur Ibrahim.

 

RDG Bank Indonesia jadi Perhatian Pasar

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.

RDG kali ini menjadi perhatian setelah BI dalam beberapa kesempatan terakhir menaikkan suku bunga atau BI Rate untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.

Ibrahim menilai, langkah pengetatan kebijakan moneter menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar.

Selain itu, Indonesia dinilai relatif lebih siap menghadapi potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah karena telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara pemasok lain.

"Langkah diversifikasi sumber pasokan minyak dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Dengan strategi tersebut, Indonesia memiliki alternatif sumber impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," ujar dia.

Adapun untuk perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, rupiah akan bergerak fluktuatif tetapi berpotensi ditutup melemah dalam kisaran 17.760-17.800 per dolar AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya