Mentan Amran Siapkan Rp 9,95 Triliun Buat Sebar Bantuan Benih Gratis

Mentan Amran Sulaiman mengimbau agar pembagian bibit dilakukan dengan tepat kepada petani.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 17 Juni 2026, 15:30 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bertemu kepala daerah seluruh Papua, di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (11/6/2026). (Arief/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman akan menyebar benih berbagai komoditas perkebunan dengan target 870 ribu hektare (ha) hingga 2027. Anggaran Rp 9,95 triliun sudah disiapkan untuk program tersebut.

Dia menjelaskan, benih yang akan disebar ke 870 ribu ha lahan tersebut di antaranya kopi, kakao, tebu, kelapa, mete, hingga pala. Program ini berjalan untuk tiga tahun, pada 2025-2027.

"Targetnya total adalah 870 ribu hektare seluruh Indonesia. Komoditasnya adalah kopi, kakao, tebu, kelapa, mete, pala. Ini komoditas strategis yang demand-nya tinggi tingkat dunia," kata Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Pembagian benih gratis ini telah dilakukan sejak tahun lalu. Pada tahun kedua 2026 ini, Kementan sudah melakukan pembibitan dengan target disalurkan pada akhir tahun. Total anggaran yang disiapkan mencapai hampir Rp 10 triliun.

"Totalnya 3 tahun ini 870 ribu hektare. Anggarannya Rp 9,95 triliun, kurang lebih Rp 10 triliun. Kelapa, tebu, kakao, kopi, mete, pala, lada. Ya, semua, untuk semua komoditas," ucap dia.

Adapun, pembagian benih ini dipastikan tidak sembarangan. Amran melihat potensi dan kebiasaan dari daerah tanam. Proses pembibitan pun dilakukan di daerah tanam masing-masing sebagai upaya efisiensi logistik.

"Jangan yang tidak biasa tanam kelapa, diberi kelapa. Jangan yang tidak biasa tanam kakao, diberi kakao, yang sudah budayanya tanam kakao, iklimnya mendukung, sudah diarahkan sana," urainya.

"Cara pembibitannya adalah di tempat situ. Supaya tidak diangkut dari Jawa yang ke Sulsel, dari Sulsel ke Papua, enggak. Di tempat itu kita pembibitannya, ahlinya kita datangkan. Jadi hemat anggaran, efisien anggaran," Amran menambahkan.

Rincian Anggaran

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumpulkan perusahaan-perusahaan sawit serta perwakilan petani di kantornya, Senin (8/6/2026). (Istimewa)

Sebagai rinciannya, anggaran Rp 9,95 triliun itu digunakan untuk 3 tahun dari 2025-2027. Dana Rp 2,54 triliun telah dikucurkan untuk program peningkatan produktivitas pertanian di 2025 lalu.

Kemudian, pada 2026, dianggarkan sebesar Rp 5,63 triliun. Serta, pada 2027, dialokasikan anggaran Rp 1,58 triliun. Dilihat dari jenis tanamannya, benih tebu dianggarkan sebesar Rp 1,52 triliun, termasuk pengadaan biaya tanam dan benih. Kakao Rp 2,49 triliun, Kelapa Rp 1,16 triliun, Kopi Rp 2,16 triliun, mete Rp 500 miliar, serta lada dan pala Rp 350 miliar.

Dikawal Aparat

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta aparat penegak hukum untuk mengawal program pembibitan bantuan pemerintah. Tujuannya mengcegah adanya penyelewengan yang mengakibatkan kerugian jangka panjang.

Sejumlah aparat yang diminta Amran mulai dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), TNI, Polri, Kejaksaan, hingga Satgas Pangan Polri. Mengingat lagi dampak penyelewengan pada pembibitan bisa merugikan hasil panen ke depannya.

"Jadi bagian pencegahan, mencegah terjadi ada penyimpangan di lapangan, bermain-main. Makanya kami koordinasi, bukan saja KPK, ada kepolisian, ada kejaksaan, semua, kita bahu-membahu, mencegah penyalahgunaan wewenang," kata Amran di Kantor Kementan, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

 

 

Hindari Kesalahan Proses Benih

Ini berkaitan dengan pembibitan kelapa, kakao, tebu, kopi, mete, hingga pala dengan anggaran total Rp 9,95 triliun. Seluruhnya akan disebar dengan total lahan seluas 870 ribu hektare di seluruh Indonesia.

"Kami minta ini dikawal, kita kawal bersama, karena ini adalah masa depan anak cucu kita. Satu kali tanam, seperti kelapa itu bisa panen sampai 30 sampai 60 tahun," ujar dia.

Amran menegaskan, kesalahan proses pembibitan bisa berpengaruh pada hasil panen dalam 30 tahun masa produktifnya. "Nah jadi ini kita kawal betul, kenapa? Kalau salah di pembibitan, akan salah 30 tahun. Salah di pembibitan, akan salah 60 tahun. Jadi kami pengalaman, pada saat pembibitan itu gak boleh salah," imbuh dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya