Liputan6.com, Washington, D.C. - Pada 15 Juni 1752, ilmuwan sekaligus negarawan Amerika Serikat Benjamin Franklin melakukan eksperimen yang kemudian menjadi salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah sains. Melalui percobaan layang-layang di tengah badai petir, Franklin berupaya membuktikan bahwa petir merupakan bentuk listrik.
Dilansir dari Hagley Museum and Library, Senin (15/2026), eksperimen tersebut dikenal luas sebagai tonggak penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern, meski hingga kini masih terdapat perdebatan mengenai bagaimana percobaan itu sebenarnya dilakukan.
Advertisement
Sebagian besar kisah mengenai eksperimen tersebut berasal dari tulisan Pendeta Joseph Priestley yang diterbitkan pada 1767. Franklin sendiri tidak pernah meninggalkan catatan yang secara langsung mendokumentasikan pelaksanaan percobaan tersebut. Namun, ia pernah menjelaskan metode eksperimen yang dapat digunakan untuk membuktikan hubungan antara petir dan listrik serta menulis tentang orang lain yang berhasil melakukannya.
Dalam versi yang paling populer, Franklin menerbangkan layang-layang saat badai petir dengan sebuah kunci logam yang diikat pada tali layang-layang. Ketika muatan listrik dari atmosfer terkumpul, percikan listrik diyakini muncul pada kunci tersebut.
Franklin disebut berhasil selamat karena menggunakan pita sutra kering sebagai isolator. Para ahli menilai listrik yang dikumpulkan dalam percobaan itu berasal dari muatan listrik di atmosfer, bukan dari sambaran petir secara langsung yang berpotensi mematikan.
Risiko eksperimen semacam itu terbukti sangat besar. Pada 1753, fisikawan Rusia Georg Wilhelm Richmann meninggal dunia akibat tersengat listrik saat melakukan penelitian serupa mengenai listrik atmosfer.
Karena itu, sejumlah sejarawan sains mempertanyakan apakah Franklin benar-benar menjalankan eksperimen tersebut persis seperti yang selama ini diceritakan. Meski demikian, tidak sedikit ilmuwan yang meyakini inti dari percobaan itu memang pernah dilakukan.
Terlepas dari berbagai perdebatan, eksperimen layang-layang Benjamin Franklin tetap dikenang sebagai salah satu simbol paling ikonik dalam sejarah ilmu pengetahuan. Penelitian tersebut membantu memperkuat pemahaman manusia mengenai sifat listrik dan menjadi dasar bagi pengembangan penangkal petir, teknologi yang hingga kini masih digunakan untuk melindungi bangunan dari sambaran petir.