Ikuti Jejak Anthropic, OpenAI Ajukan IPO

OpenAI mengikuti langkah Anthropic yang secara diam-diam mengajukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 09 Juni 2026, 08:00 WIB
CEO OpenAI Sam Altman kunjungi Indonesia. (Liputan6.com/Giovani Dio Prasasti)

Liputan6.com, Jakarta - OpenAI telah mengajukan permohonan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) secara tertutup kepada Komisi Sekuritas dan Bursa atau the Securities and Exchange Commission (SEC). OpenAI mengikuti Anthropic yang juga diam-diam mengajukan IPO. Hal ini dilakukan beberapa hari sebelum SpaceX milik Elon Musk dijadwalkan untuk memasuki pasar publik.

Mengutip CNBC, Selasa (9/6/2026), perusahaan kecerdasan buatan yang bernilai lebih dari US$ 850 miliar atau Rp 15.477 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.210), telah siap untuk go public paling cepat pada kuartal IV 2026.

Pengajuan rahasia memungkinkan perusahaan untuk menyerahkan laporan keuangan kepada regulator untuk ditinjau sebelum tersedia untuk publik dan calon investor.

Kepada CNBC, CFO OpenAI, Sarah Friar menuturkan pada April, kebiasaan baik bagi bisnis sebesar OpenAI untuk terlihat, terasa, dan bertindak seperti perusahaan publik, tetapi dia tidak akan berkomentar tentang jadwal IPO tertentu. OpenAI mengatakan pada Senin, mereka belum memutuskan waktunya.

Berikut pernyataan OpenAI:

"Kami baru-baru ini mengajukan S-1 rahasia. Kami memperkirakan akan bocor jadi kami baru mengumumkannya. Kami belum memutuskan waktunya, mungkin akan memakan waktu karena ada hal-hal yang ingin kami lakukan yang mungkin lebih mudah dilakukan sebagai perusahaan swasta. Namun, ini adalah serangkaian pertimbangan yang rumit dan ini memberi kita pilihan untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) lebih cepat jika pada akhirnya itu adalah pilihan terbaik,”

OpenAI juga berencana untuk memfasilitasi penawaran tender yang memungkinkan karyawan untuk menjual saham dengan valuasi terbaru US$ 852 miliar atau Rp 15.514 triliun setelah pendanaan dan mengurangi tekanan likuiditas jangka pendek, demikian menurut sumber.

Perusahaan telah bekerja sama dengan bank-bank termasuk Goldman Sachs dan Morgan Stanley dalam pengajuan tersebut, seperti yang dilaporkan CNBC sebelumnya.

Ikuti Jejak Anthropic

Pendiri dan CEO OpenAI Sam Altman kunjungi Indonesia pada Selasa (14/6/2023). Ia juga menemui Mendikbudristek Nadiem Makarim (Liputan6.com/Giovani Dio Prasasti)

OpenAI melesat ke arus utama setelah peluncuran chatbot ChatGPT pada 2022, dan sejak itu berkembang menjadi salah satu perusahaan swasta paling berharga di dunia.

ChatGPT kini mendukung lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan, tetapi OpenAI menghadapi persaingan yang semakin ketat dari pesaing seperti Anthropic, Google, dan SpaceX milik Elon Musk yang bergabung dengan xAI awal tahun ini.

SpaceX memulai roadshow pekan lalu. OpenAI, Anthropic dan Google semuanya disebut sebagai beberapa pesaing utama SpaceX di bidang AI, menurut pengajuan tersebut.

Pekan lalu, Anthropic mengumumkan pengajuan IPO secara tertutup. Tak lama sebelum itu, perusahaan tersebut menutup putaran pendanaan dengan valuasi US$ 965 miliar atau Rp 17.571 triliun, melampaui OpenAI yang bernilai US$ 852 miliar atau Rp 15.514 triliun pada akhir Maret.

Berada di Bawah Tekanan

Sam Altman's San Francisco residence was targeted in two attacks in as many days, revealing the perpetrators' anti-AI motives. (Photo: Sam Altman X Account)

Tergantung pada bagaimana penawaran SpaceX diterima, Anhropic dan OpenAI mungkin akan berlomba-lomba untuk saling mengalahkan karena jumlah modal besar yang mereka coba kumpulkan.

CEO OpenAI, Sam Altman, akan berada di bawah tekanan untuk meyakinkan investor, terutama mengenai keuangan perusahaan. OpenAI telah mengumpulkan dana lebih dari US$ 180 miliar atau Rp 3.277 triliun, dan masih terus membelanjakan kas untuk mengamankan daya komputasi dan membangun infrastruktur untuk melatih dan menjalankan model AI.

Dalam sebuah postingan blog pada Senin, Altman memperkenalkan apa yang disebutnya sebagai "fase ketiga OpenAI." Fase pertama, tulis dia, adalah melakukan penelitian menuju kecerdasan buatan umum. Fase kedua adalah menjadi "perusahaan produk" dan mempelajari bagaimana orang menggunakan alat-alatnya.

"Sekarang kita memasuki fase ketiga," tulisnya.

"Ekonomi mulai berubah bentuk di sekitar AI. Pertanyaan utamanya sekarang adalah bagaimana membuat AI canggih berlimpah, terjangkau, aman, bermanfaat, dan cukup mudah bagi setiap orang dan organisasi untuk mendapatkan manfaat darinya."

OpenAI telah mencoba menekankan fokus dan disiplin internal dalam beberapa bulan terakhir, menutup proyek-proyek sampingan seperti aplikasi video pendek Sora milik perusahaan. Perusahaan tersebut menggelontorkan investasi ke bisnis perusahaan serta produk asisten pengkodeannya, Codex, yang bersaing langsung dengan penawaran Claude Code yang populer dari Anthropic.

Altman menulis dalam sebuah unggahan di X pada April, "rasanya Codex sedang mengalami momen seperti ChatGPT."

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya