Liputan6.com, Jakarta - Jaringan blockchain Hedera bergabung dengan koalisi yang terdiri dari lebih dari 200 organisasi untuk mendesak pimpinan Senat Amerika Serikat (AS) segera membawa Rancangan Undang-Undang (RUU) Digital Asset Market Clarity Act atau Clarity ACT ke tahap pemungutan suara penuh di Senat.
Dikutip dari CoinMarketCap, Selasa (9/6/2026), dorongan tersebut dikoordinasikan bersama kelompok advokasi industri kripto Stand With Crypto dan menjadi salah satu mobilisasi terbesar industri aset digital dalam mendukung regulasi kripto di Amerika Serikat.
Advertisement
Pesan utama yang disampaikan koalisi tersebut cukup jelas, yakni perlunya kepastian regulasi bagi industri aset digital.
Pada 26 Mei 2026, Stand With Crypto mengeluarkan seruan kepada masyarakat untuk menghubungi para senator dan meminta agar RUU bernomor H.R. 3633 tersebut segera dibawa ke sidang pleno Senat.
RUU Clarity ACT mencakup berbagai aspek penting dalam industri aset digital, mulai dari aturan terkait kejahatan keuangan, perlindungan bagi pengembang keuangan terdesentralisasi (DeFi), standar tokenisasi aset, perlindungan hak kepemilikan pelanggan, hingga pembatasan imbal hasil (yield) stablecoin.
Langkah ini dilakukan setelah Clarity ACT memperoleh kemajuan penting pada pertengahan Mei lalu. Komite Perbankan Senat meloloskan RUU tersebut melalui pemungutan suara bipartisan dengan hasil 15 suara mendukung dan 9 suara menolak.
Dua senator dari Partai Demokrat diketahui ikut mendukung RUU tersebut bersama anggota Partai Republik, sehingga membuka jalan bagi pembahasan lebih lanjut di tingkat Senat secara penuh.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Peluang dan Tantangan Clarity ACT
Meski berhasil lolos dari Komite Perbankan Senat, perjalanan Clarity ACT masih menghadapi sejumlah tantangan. Untuk melanjutkan proses legislasi, RUU tersebut membutuhkan sedikitnya 60 suara di Senat guna melewati tahapan prosedural berikutnya.
Selain itu, jadwal legislasi yang padat membuat ruang pembahasan menjadi semakin terbatas. Para analis menilai Senat hanya memiliki waktu sekitar delapan minggu sebelum memasuki masa reses musim panas pada Agustus 2026.
Salah satu isu yang masih menjadi perdebatan adalah ketentuan etika yang melarang pejabat tinggi pemerintah memiliki kepentingan finansial dalam aset digital. Poin tersebut masih menjadi bahan diskusi antara anggota Partai Demokrat dan Gedung Putih.
Bagi Hedera dan token natifnya, HBAR, Clarity ACT memiliki arti penting. Regulasi tersebut diperkirakan akan mengklasifikasikan sejumlah aset digital sebagai komoditas dan mengalihkan pengawasannya dari Securities and Exchange Commission (SEC) ke Commodity Futures Trading Commission (CFTC).
Sejumlah analis menilai perubahan tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi jaringan blockchain seperti Hedera yang selama ini telah menjalin kemitraan dengan berbagai perusahaan besar, termasuk Google, IBM, dan FedEx melalui Dewan Pengelola (Governing Council) mereka.
Koalisi pendukung Clarity ACT menilai waktu semakin sempit. Karena itu, mereka terus mendesak pimpinan Senat AS untuk segera mengambil langkah sebelum masa reses Agustus dimulai.