Presiden Memperingati Kerusuhan Mei `98

Presiden Megawati Sukarnoputri meminta masyarakat secara tulus kembali saling mengasihi dan memaafkan. Surat Bukti Kewarganegaraan RI tidak wajib dimiliki WNI dari suku dan keturunan bangsa manapun.

oleh Liputan6Diterbitkan 14 Mei 2004, 02:04 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Presiden Megawati Sukarnoputri menghadiri peringatan enam tahun Kerusuhan Mei 1998 di kawasan Glodok, Jakarta Barat, Kamis (13/5) malam. Di hadapan warga yang sebagian besar dari etnis Cina, Megawati menegaskan, selain memakan korban jiwa dan kerugian harta benda, kerusuhan menimbulkan kebencian antargolongan. Karena itu, Presiden meminta masyarakat secara tulus kembali saling mengasihi dan memaafkan.

Megawati kembali menegaskan, Surat Bukti Kewarganegaraan RI (SBKRI) tidak wajib dimiliki oleh warga negara Indonesia dari suku dan keturunan bangsa manapun. "Sebagai warga negara Indonesia yang ada hanyalah kartu tanda penduduk," tegas Megawati.

Setelah memberikan sambutan, Presiden bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan ad interim Hari Sabarno, Gubernur Jakarta Sutiyoso dan Ketua Umum Pergerakan Reformasi Tionghoa Indonesia Lieus Sungkharisma menyalakan lilin untuk mengenang korban Kerusuhan Mei 1998.

Korban Insiden Mei 1998 yang hadir dalam acara itu adalah Iwan Firman. Lelaki itu menderita cacat tubuh permanen. Tangan dan wajah Iwan mengalami luka bakar yang tak dapat disembuhkan lagi [baca: Petaka Mei 1998 dan Nestapa Panjang Iwan]. Namun demikian, Iwan mengaku telah memaafkan para penganiaya. Diharapkan sikapnya ini akan mendorong perdamaian dan mengetuk pemerintah lebih memperhatikan para korban kerusuhan lainnya.

Tragedi Mei juga diperingati puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia di depan kampus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Kamis malam. Demonstran mendesak Presiden Megawati menuntaskan kasus Tragedi Trisakti yang hingga kini terkesan dipetieskan. Selain meneriakkan yel-yel dan berorasi, mereka juga menggelar aksi teatrikal dengan menampilkan empat pocong sebagai simbol korban Tragedi Trisakti.

Siang tadi, puluhan anggota keluarga korban Kerusuhan Mei `98 mengadakan acara doa bersama dan tabur bunga di Mal Klender, Jakarta Timur [baca: Tabur Bunga Mengisi Peringatan Tragedi Mei]. Paguyuban Keluarga Mei `98 menilai tragedi enam tahun silam itu bukan kerusuhan massa biasa melainkan peristiwa terencana dan sistematis.(ZAQ/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya