Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyoroti penempatan maktab jemaah haji khusus di Mina yang dinilai kurang menguntungkan pada penyelenggaraan haji tahun ini. Sejumlah jemaah harus menempuh jarak yang lebih jauh setelah melaksanakan lempar jumrah karena lokasi tenda tidak berada di kawasan yang strategis.
Direktur Pelayanan Haji Khusus Kemenhaj, Tuti Rianingrum, mengatakan perubahan sistem layanan yang diterapkan syarikah turut memengaruhi penempatan jemaah haji khusus Indonesia di Mina.
Advertisement
Menurut Tuti, pada tahun-tahun sebelumnya Indonesia dapat memperoleh blok penempatan yang berdekatan sehingga jemaah terkonsentrasi dalam satu kawasan yang relatif strategis. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi pada musim haji tahun ini.
“Kalau tahun-tahun sebelumnya Indonesia itu bisa ngeblok. Blok yang dekat sekali dengan jamarat itu bisa diberikan kepada jemaah haji Indonesia,” kata Tuti kepada tim Media Center Haji di Makkah, Jumat (5/6/2026).
Ia menjelaskan, sistem yang berlaku tahun ini membuat penempatan maktab haji khusus tersebar di sejumlah lokasi. Akibatnya, sebagian jemaah mendapatkan posisi yang cukup dekat dengan area jamarat, sementara sebagian lainnya menempati lokasi yang lebih jauh.
“Untuk Mina, maktab haji khusus itu terpisah. Jadi ada yang dapat di tengah dan ada yang dapat di pinggir,” ujarnya.
Jadi Kendala Ibadah
Kondisi tersebut menimbulkan kendala saat puncak pelaksanaan ibadah di Mina. Meski jemaah dapat mencapai lokasi lempar jumrah dengan relatif mudah, mereka harus menempuh perjalanan yang lebih panjang saat kembali ke tenda.
“Jemaah ketika lempar jumrah dekat bisa melakukan pelemparan, tapi begitu pulang itu harus memutar dan jaraknya sangat jauh, sampai tujuh kilometer,” ucap Tuti.
Selain persoalan jarak, jemaah juga menghadapi pembatasan akses di sejumlah jalur menuju tenda. Tuti mengatakan petugas mengarahkan sebagian jemaah untuk memutar karena tidak dapat melintasi rute tertentu.
“Iya betul, dikasih border biru sehingga tidak bisa masuk, jadi harus memutar,” ujarnya.
Masalah penempatan maktab menjadi salah satu evaluasi yang disampaikan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) kepada pemerintah. Mereka berharap Indonesia dapat kembali memperoleh lokasi yang lebih terkonsentrasi dan dekat dengan area utama aktivitas jemaah di Mina pada musim haji mendatang.
Tuti mengatakan Kemenhaj akan membawa masukan tersebut dalam pembahasan penyelenggaraan haji tahun depan. Menurut dia, lokasi yang lebih strategis dapat meningkatkan kenyamanan sekaligus mengurangi beban fisik jemaah selama menjalani rangkaian ibadah di Mina.