Dari Balik Tembok Rutan Muntok, Warga Binaan Produksi 300 Telur per Hari

Rancangan peraturan tersebut juga dinilai menyulitkan pengawasan rokok ilegal yang tengah digalakkan oleh pemerintah.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 11 Agustus 2025, 14:02 WIB
Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Muntok mengoptimalkan pemanfaatan lahan tak terpakai di area dalam rutan menjadi kawasan peternakan ayam petelur produktif (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Muntok mengoptimalkan pemanfaatan lahan tak terpakai di area dalam rutan menjadi kawasan peternakan ayam petelur produktif.

Kepala Rutan Kelas IIB Muntok, Andri Ferly, mengatakan program tersebut dijalankan sebagai langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan internal sekaligus menjadi sarana pembinaan kemandirian bagi para warga binaan.

"Peternakan tersebut dikelola langsung oleh narapidana yang telah mendapatkan pembekalan pelatihan khusus budidaya unggas," kata Ferly, Selasa 11 Agustus.

Dia juga menjelaskan, setiap hari para narapidana bertanggung jawab mengurus operasional harian, mulai dari pemberian pakan, pembersihan area kandang, pemantauan kesehatan unggas, hingga proses pemanenan telur.

Alih fungsi lahan tidur ini berfokus pada pemenuhan gizi internal serta pembekalan keterampilan hidup bagi warga binaan. Pengelolaan peternakan ini melibatkan langsung para narapidana dan tahanan yang telah dibekali pelatihan khusus.

Dari program tersebut, pihaknya mencatat rata-rata produksi mencapai 300 butir telur ayam setiap harinya. Seluruh hasil panen diprioritaskan untuk pasokan dapur umum rutan guna memenuhi kebutuhan asupan gizi dan protein harian para penghuni rutan.

"Upaya ini dilakukan secara konsisten setiap harinya guna meningkatkan gizi dan variasi menu harian warga binaan," ujar Andri Ferly.

 

Modal Warga Binaan Kembali Berintegrasi dengan Masyarakat

Ferly menambahkan, keterampilan teknis dan wirausaha peternakan yang diperoleh selama masa pemidanaan diharapkan dapat menjadi modal kerja yang berguna saat warga binaan kembali berintegrasi dengan masyarakat.

Melalui program tersebut, pihaknya membuktikan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang produktif, edukatif, dan berdampak nyata bagi pembinaan sumber daya manusia di balik tembok tahanan.

Selain itu, upaya tersebut merupakan wujud nyata komitmen rutan dalam mendukung program Ketahanan Pangan yang sejalan dengan cita-cita Asta Cita pemerintah, khususnya poin kemandirian bangsa melalui pemenuhan pangan nasional.

"Kami berharap keterampilan yang didapatkan selama masa pemidanaan ini bisa menjadi modal berharga bagi warga binaan saat bebas kelak, sehingga mereka dapat berwirausaha secara mandiri di tengah masyarakat," tegasnya.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya