Liputan6.com, Juneau - Salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah modern terjadi di Alaska, Amerika Serikat, pada 6 Juni 1912. Erupsi yang berasal dari Gunung Novarupta itu berlangsung selama tiga hari dan hingga kini masih menjadi objek penelitian para ilmuwan.
Berdasarkan data National Park Service (NPS), letusan Novarupta tercatat sebagai erupsi gunung berapi terbesar pada abad ke-20. Peristiwa tersebut menghasilkan pembentukan Kaldera Katmai dan kawasan yang kemudian dikenal sebagai Valley of Ten Thousand Smokes atau Lembah Sepuluh Ribu Asap.
Advertisement
Tanda-tanda aktivitas vulkanik sebenarnya telah muncul beberapa hari sebelum erupsi. Serangkaian gempa bumi kuat mengguncang wilayah sekitar sejak awal Juni 1912, dikutip dari laman nps.gov, Sabtu (6/6/2026).
Pada 6 Juni sekitar pukul 13.00 waktu setempat, awak kapal uap Dora yang berlayar di Selat Shelikof melaporkan melihat kolom abu raksasa membumbung tinggi ke atmosfer. Beberapa jam kemudian, hujan abu vulkanik yang sangat tebal menutupi kawasan sekitar dan membuat langit menjadi gelap.
Dampak letusan dirasakan hingga Kota Kodiak yang berjarak sekitar 160 kilometer dari pusat erupsi. Wilayah tersebut mengalami kegelapan selama hampir 60 jam akibat abu vulkanik yang menyelimuti langit.
Abu yang menumpuk hingga sekitar 30 sentimeter menyebabkan banyak atap bangunan runtuh. Selain itu, kilatan petir dari awan abu memicu sejumlah kebakaran, sementara sumber air bersih tercemar sehingga tidak dapat digunakan oleh warga.
Letusan Novarupta juga menjadi tonggak penting dalam perkembangan ilmu vulkanologi. Peristiwa ini memungkinkan para ilmuwan mempelajari secara rinci endapan aliran piroklastik berskala besar yang terjadi di daratan.
Penelitian lanjutan mengungkap bahwa erupsi tersebut melibatkan tiga jenis magma berbeda, yakni riolit, dasit, dan andesit, yang meletus secara bersamaan. Proses tersebut menghasilkan batu apung bergaris yang tergolong langka.
Pada awalnya para peneliti meyakini Gunung Katmai sebagai sumber letusan. Namun, penelitian yang dilakukan beberapa dekade kemudian menunjukkan bahwa pusat erupsi sebenarnya berada di Novarupta, sekitar 10 kilometer dari Kaldera Katmai yang runtuh akibat keluarnya magma dalam jumlah besar.