Liputan6.com, Semarang: Para penyandang cacat mengekspresikan perasaan dan pemahamannya tentang pemilihan umum dalam karikatur yang dipamerkan di Semarang, Jawa Tengah, baru-baru ini. Dalam karya-karyanya, Agus Suprapto mengkritik soal juru kampanye yang hanya mengobral janji, politik uang, dan ketidakpedulian partai politik pada orang kecil, termasuk orang cacat.
Dalam berbagai goresan, Agus juga bicara banyak tentang keinginannya untuk dihargai sebagai manusia. "Supaya anak cacat bisa diterima, tidak dihina," kata dia, sedih. Semua karya para penyandang cacat ini setidaknya menggambarkan perasaan dan harapan sebagian orang terhadap pemilu. Mereka berharap, pesta demokrasi lima tahunan membawa perubahan terhadap nasib mereka yang selama ini terpuruk.
Sebelumnya pameran karikatur tentang pemilu digelar di Gedung The Habibie Center di Jalan Kemang Selatan Nomor 98, Jakarta Selatan. Sebanyak 25 kartunis ambil bagian dalam pameran bertema Karikatur sebagai Media Kritik Pemilu 2004 [baca: Serba Serbi Pemilu 2004 dalam Karikatur]. Para kartunis menampilkan berbagai cerita berkaitan soal Pemilu 2004. Antara lain menyentil masalah politik uang, politikus busuk, dan ijazah palsu.(TNA/Teguh Hadi Prayitno dan Kukuh Ary Wibowo)
Dalam berbagai goresan, Agus juga bicara banyak tentang keinginannya untuk dihargai sebagai manusia. "Supaya anak cacat bisa diterima, tidak dihina," kata dia, sedih. Semua karya para penyandang cacat ini setidaknya menggambarkan perasaan dan harapan sebagian orang terhadap pemilu. Mereka berharap, pesta demokrasi lima tahunan membawa perubahan terhadap nasib mereka yang selama ini terpuruk.
Sebelumnya pameran karikatur tentang pemilu digelar di Gedung The Habibie Center di Jalan Kemang Selatan Nomor 98, Jakarta Selatan. Sebanyak 25 kartunis ambil bagian dalam pameran bertema Karikatur sebagai Media Kritik Pemilu 2004 [baca: Serba Serbi Pemilu 2004 dalam Karikatur]. Para kartunis menampilkan berbagai cerita berkaitan soal Pemilu 2004. Antara lain menyentil masalah politik uang, politikus busuk, dan ijazah palsu.(TNA/Teguh Hadi Prayitno dan Kukuh Ary Wibowo)