Iran Klaim Serang Pangkalan Udara AS di Kuwait

Klaim serangan ini disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 28 Mei 2026, 12:19 WIB
Tank milik tentara AS melintas di wilayah Iran (AFP/Delil Souleiman)

Liputan6.com, Teheran - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang pangkalan udara Amerika Serikat di Kuwait pada Kamis (28/5/2026) dini hari sebagai balasan atas serangan udara AS di dekat Bandara Bandar Abbas, Iran selatan.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, melaporkan serangan dilakukan sekitar pukul 04.50 waktu setempat atau 01.20 GMT, beberapa jam setelah Iran menuding AS melancarkan serangan udara di area dekat bandara kota pelabuhan Bandar Abbas.

IRGC menyebut serangan tersebut sebagai peringatan keras bagi Washington.

“Tanggapan ini adalah peringatan serius agar musuh tahu bahwa agresi tidak akan dibiarkan begitu saja, dan jika diulangi, tanggapan kami akan lebih tegas,” demikian pernyataan IRGC, dikutip dari laman Anadolu Agency, Kamis (28/5).

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari militer AS terkait klaim serangan tersebut.

Sebelumnya, seorang pejabat AS mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pasukan Amerika menembak jatuh empat drone Iran yang dianggap mengancam di dekat Selat Hormuz. AS juga mengaku menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang disebut tengah bersiap meluncurkan drone kelima.

“Tindakan ini terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk menjaga gencatan senjata,” kata pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim.

Ketegangan antara kedua negara terus meningkat meski gencatan senjata telah diumumkan. Komando Pusat AS (CENTCOM) awal pekan ini mengonfirmasi serangkaian serangan terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal Iran di wilayah selatan Iran yang diduga hendak memasang ranjau laut.

Teheran mengecam aksi tersebut dan menyebutnya sebagai “pelanggaran berat terhadap gencatan senjata”.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga mengakui belum puas dengan perkembangan negosiasi untuk mengakhiri konflik dengan Iran.

“Saya tidak puas dengan itu, tetapi kita akan puas. Atau, kita harus menyelesaikan pekerjaan ini,” kata Trump.

Konflik kawasan meningkat tajam sejak 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah target regional serta menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun pembicaraan damai di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen.

Meski demikian, Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu sambil tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal yang berlayar menuju atau keluar dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya