Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah pada perdagangan Selasa, (26/5/2026). Di bank nasional, kurs jual dolar AS tembus 17.800.
Berdasarkan data e-Rate dan special rate di sejumlah bank besar, jurs jual dolar AS di kisaran 17.770-17.800 pada Selasa sore, 26 Mei 2026.
Advertisement
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menetapkan kurs e-Rate dolar AS di level Rp 17.725 untuk beli dan Rp 17.825 untuk jual. Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat kurs e-Rate beli sebesar Rp 17.598 dan jual di Rp 17.800.
Selain itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menetapkan special rates untuk beli di 17.780 dan 17.800 untuk jual.
Kemudian PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menetapkan special rate untuk beli 17.740 dan 17.770 untuk jual.
Sebelumnya, analis menilai, nilai tukar rupiah yang masih tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) didorong kombinasi sentimen eksternal.
"Dalam perdagangan siang ini rupiah ini sudah melemah 50 poin di Rp 17.794,” ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya kepada media, Selasa, 26 Mei 2026.
Ibrahim menuturkan, pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen eksternal yang memburuk, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga lonjakan harga minyak dunia. Ibrahim menjelaskan, pelemahan rupiah kali ini cukup mengkhawatirkan, terutama karena bertepatan dengan momentum libur nasional yang berpotensi membatasi ruang gerak intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar domestik.
"Bahwa hari ini rupiah terus mengalami pelemahan. Kita melihat bahwa pelemahan mata uang rupiah di hari ini cukup signifikan. Pelemahannya begitu mengkhawatirkan, apalagi besok di libur nasional yang kemungkinan besar tekanan eksternal ini akan cukup tinggi,” ujarnya.
Tekanan dari Pasar Global
Dia menuturkan, tekanan dari pasar global masih sangat kuat sehingga rupiah berisiko melanjutkan tren pelemahan dalam beberapa hari ke depan.
"Bank Indonesia tidak bisa melakukan intervensi di pasar domestik, obligasi, dan surat utang negara sehingga hanya di pasar internasional ini akan membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” ujarnya.
Konflik Timur Tengah Dorong Penguatan Dolar AS
Ibrahim menjelaskan faktor utama yang menekan rupiah berasal dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Pasar sebelumnya menaruh harapan pada tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terkait isu nuklir yang dimediasi sejumlah negara. Namun harapan tersebut memudar setelah muncul laporan mengenai serangan Amerika Serikat ke wilayah Iran Selatan.
Situasi itu kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan yang selama ini menjadi pusat produksi energi dunia. Selain itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait pengelolaan uranium Iran dinilai semakin memperkeruh situasi. Di sisi lain, perpecahan internal di Iran antara kelompok yang menginginkan perdamaian dan kelompok garis keras juga menambah ketidakpastian politik.
"Ya kita lihat bahwa apa yang dikatakan oleh Trump yang berubah-ubah ini yang kemungkinan akan membuat tensi geopolitik di Timur Tengah akan memanas kembali. Lagi-lagi Amerika mengatakan bahwa uranium yang ada di Iran harus diambil alih oleh Amerika dan tidak mungkin ya Iran akan memberikan uranium tersebut,” kata dia.
Harga Minyak
Tidak hanya Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung turut memperburuk sentimen pasar global. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mencari aset yang dianggap aman, termasuk dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami tekanan.
Harga Minyak Tembus USD 92
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak mentah dunia juga terus mengalami kenaikan. Ibrahim menyebut harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) telah mencapai USD 92 per barel dan masih berpotensi melanjutkan penguatan. Kenaikan harga minyak menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi domestik.
Semakin tinggi harga minyak, semakin besar pula kebutuhan dolar AS yang harus disiapkan untuk membayar impor energi. Menurut Ibrahim, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah. Terlebih lagi, asumsi dasar dalam APBN masih menggunakan harga minyak sekitar USD 70 per barel dan kurs rupiah di level Rp 16.500 per dolar AS.
"Ini yang akan membuat kebutuhan dolar cukup tinggi karena APBN ya masih ditetapkan di USD 70, barrel ya kemudian rupiahnya di Rp 16.500,” pungkasnya.