Liputan6.com, Havana - Kuba mengumumkan pengiriman pertama dari donasi sekitar 60.000 ton beras dari China, ketika negara kepulauan di Karibia itu tengah menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Dalam serangkaian unggahan di media sosial pada Minggu (24/5/2026), Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengonfirmasi bahwa muatan pertama sebanyak 15.000 ton telah tiba sehari sebelumnya di pelabuhan Havana.
Advertisement
Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada China dan kepada anggota Parlemen Eropa yang mengecam kampanye tekanan yang dihadapi pemerintahnya.
Sejak Januari, Amerika Serikat (AS) meningkatkan sanksinya terhadap Kuba sebagai bagian dari kebijakan garis keras pada masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.
"Terima kasih banyak atas solidaritas ini dan atas kecaman yang tegas dan tidak ambigu terhadap hukuman kolektif yang sedang dijatuhkan kepada rakyat kami," tulis Diaz-Canel, seraya menyamakan situasi Kuba dengan 'genosida'.
Ketika Trump berupaya membendung pengaruh China yang semakin besar di Amerika Latin, Kuba justru semakin bergantung pada bantuan dari Tiongkok.
Sebelumnya, China telah menyumbangkan panel surya kepada Kuba untuk membantu memperbarui jaringan energi yang telah menua serta mengalihkan pulau itu dari ketergantungan pada bahan bakar fosil. Saat ini, menurut Badan Energi Internasional (IEA), seperti dikutip dari laporan Al Jazeera, Kuba bergantung pada impor untuk hampir 60 persen pasokan minyaknya.
Pemerintahan Trump hampir sepenuhnya memblokir pengiriman minyak ke Kuba sejak awal tahun.
Blokade minyak de facto itu dimulai tidak lama setelah 3 Januari, ketika AS meluncurkan operasi militer untuk menculik dan memenjarakan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Trump kemudian melanjutkan operasi tersebut dengan mengumumkan bahwa tidak akan ada lagi minyak maupun dana yang dikirim dari Venezuela ke Kuba.
Pada akhir bulan yang sama, ia juga mengeluarkan perintah eksekutif yang menetapkan Kuba sebagai ancaman serius bagi AS serta mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi kepada negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba.
Sejak saat itu, hanya satu kapal tanker Rusia yang diizinkan mencapai pulau tersebut. Awal bulan ini, Menteri Energi Vicente de la O Levy mengumumkan bahwa pulau itu telah kehabisan pasokan minyak.
Respons terhadap Tekanan AS
Meskipun Kuba sudah terbiasa mengalami pemadaman listrik, krisis terbaru ini telah menyebabkan pemadaman berskala nasional dan membuat layanan publik — termasuk transportasi dan layanan kesehatan — terhenti di banyak wilayah.
Namun, Trump terus memberlakukan sanksi dalam upaya yang bertujuan memaksakan perubahan rezim.
Laporan media menyebutkan bahwa ia menginginkan pengunduran diri Diaz-Canel dan terbuka terhadap situasi yang mirip dengan Venezuela, di mana pemerintahan Maduro sebagian besar tetap bertahan, meskipun Maduro sendiri digantikan.
Trump juga berulang kali mengisyaratkan bahwa ia dapat mempertimbangkan respons militer apabila Kuba gagal memenuhi tuntutannya, meskipun pemerintahannya mengirimkan sinyal yang bercampur terkait kemungkinan intervensi di pulau tersebut.
"Presiden-presiden lain telah menghadapi persoalan ini selama 50 atau 60 tahun dan mencoba mengambil tindakan, tetapi tampaknya saya akan menjadi orang yang benar-benar menyelesaikannya," kata Trump pekan lalu dari Ruang Oval.
Negosiasi antara kedua negara kemungkinan akan semakin tegang setelah pemerintahan Trump mengumumkan dakwaan pembunuhan terhadap mantan Presiden Kuba Raul Castro terkait penembakan jatuh dua pesawat milik kelompok pengasingan Kuba pada 1996.
Sejak 1960-an, Kuba berada di bawah embargo perdagangan menyeluruh dari AS yang telah melemahkan perekonomiannya.
Namun, pejabat AS menuding pemerintah Kuba bertanggung jawab atas salah urus ekonomi dan penindasan terhadap rakyatnya, khususnya para pembangkang politik.
Awal bulan ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengungkapkan bahwa pemerintahan Trump menawarkan bantuan kemanusiaan sebesar USD 100 juta dolar AS kepada Kuba, dengan syarat negara itu menerapkan reformasi yang nyata.
Dalam unggahannya pada Minggu, Diaz-Canel berupaya menunjukkan sikap menantang terhadap kampanye tekanan maksimum Trump.
"Strategi 'tekanan maksimum' — yang dengan gencar didengungkan sebagian pihak di AS — merupakan bagian dari upaya untuk membenarkan narasi palsu tentang keruntuhan yang akan segera terjadi dan pada akhirnya membuka jalan bagi intervensi militer," tulisnya.
Diaz-Canel menambahkan bahwa Kuba akan terus memperkuat hubungannya dengan rival ekonomi dan politik AS, yaitu China.
"Hubungan persahabatan dan kerja sama yang kami hargai bersama terus tumbuh semakin kuat di masa-masa penting ini," ujarnya.