Trowulan, Ibukota Majapahit yang Kini Nyaris Tak Berbekas

Trowulan menyimpan istana kerajaan Majapahit yang berbalut emas dengan gerbang utamanya Gapura Wringin Lawang.

oleh Raden Trimutia Hatta diperbarui 11 Okt 2013, 08:07 WIB
Bangsa yang besar adalah yang tidak melupakan sejarah. Salah satu sejarah besar Indonesia adalah Trowulan, situs kota yang dahulu merupakan pusat kerajaan Majapahit.

Trowulan sebagai ibukota Majapahit tercantum dalam kakawin Nagarakretagama oleh Prapanca dan tercatat dalam karya Thomas Stamford Raffles, The History of Java.

Namun bila melihat kawasan pusaka tersebut saat ini, sulit percaya akan kebesaran kerajaan Majapahit. Sebab, peninggalan kerajaan besar itu nyaris tak berbekas.

Padahal, Trowulan menyimpan istana kerajaan Majapahit yang berbalut emas dengan gerbang utamanya Gapura Wringin Lawang. Di dalamnya juga terdapat kompleks yang terdiri dari puluhan rumah-rumah para pekerja istana.

Namun, kondisi Trowulan saat ini sangat mengkhawatirkan akibat kerusakan dan perusakan yang terus terjadi sampai hari ini. Salah satu struktur rumah penduduk Majapahit yang tersisa hanyalah pundakan dan susunan batu. Tak ada satu pun yang masih berbentuk rumah. Terlebih, sebagian besar arca-arca yang ada dalam kondisi pecah.

Situs Trowulan kini hanyalah hamparan sawah yang dikelilingi pabrik-pabrik. Bahkan kini tengah dirancang pendirian pabrik baja yang dibangun 500 meter, persis di kawasan situs Majapahit di Jalan Raya Mojokerto–Jombang, Trowulan. Proyek itu pun mengancam struktur bangunan situs lainnya yang masih terpendam di dalam tanah.

Padahal, luas wilayah ibu kota Majapahit dulunya mencapai 112 kilometer persegi. Luas ini mencangkup Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, dan Jombang. Ada 66 desa berdiri di atas kompleks kerajaan ini.

"Sejak dilaksanakannya Temu Pusaka Indonesia 2012, BPPI secara konsisten terus melakukan upaya pelestarian di kawasan yang merupakan ibukota kerajaan Majapahit ini," kata Ketua Dewan Pimpinan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Luluk Sumiarso dalam keterangannya kepada Liputan6.com di Jakarta, Jumat (11/10/2013).

BPPI pun akan mendampingi mitra–mitra pelestari di Trowulan dan menyelenggarakan puncak peringatan Hari Pusaka Dunia atau World Heritage Day 2013 di sana.

"Kegiatan ini menunjukkan upaya kita bersama untuk mendorong sinergi para pemangku kepentingan dalam upaya penetapan Trowulan sebagai Kawasan Cagar Budaya sesuai Undang–Undang Cagar Budaya XI/2010," tambah Wakil Ketua Dewan Pimpinan BPPI Catrini P Kubontubuh.

Menurut Direktur Eksekutif Yayasan Arsari Djojohadikusumo yang aktif mendukung kegiatan pelestarian di Trowulan itu, menguatnya jejaring di antara para pemangku pelestarian pusakamendorong pula penolakan pendirian pabrik baja di kawasan ini. Selain aksi–aksi kultural yang dilakukan warga setempat, BPPI dan Jaringan Pelestarian Majapahit menginisiasi pembuatan petisi online di change.org untuk menggalang dukungan masyarakat di seluruh dunia.

"Setelah BPPI mempresentasikan kawasan pusaka Trowulan dalam the 15th International Conference of National Trustsdi Uganda-Afrika Timur, maka telah terkumpul hampir 10.000 dukungan dalam bentuk tandatangan," ungkap Catrini.

BPPI pun berharap seluruh penduduk Indonesia mau menyelamatkan situs tersebut. Caranya hanya dengan memberikan tanda tangan melalui petisi yang bisa diakses di change.org dengan kata kunci 'savetrowulan'. (Mut)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya