Jemaah Haji Indonesia yang Hilang dan Meninggal Disalatkan di Masjidil Haram

Firdaus ditemukan dalam kondisi wafat pada Jumat dini hari, 22 Mei 2026, setelah dilaporkan hilang pada Jumat pagi, 15 Mei 2026.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 23 Mei 2026, 20:56 WIB
Salah seorang jemaah Haji Indonesia, Muhammad Firdaus Ahlan hilang dan masih dalam proses pencarian intensif di Kota Makkah, Arab Saudi. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Mendiang jemaah haji Indonesia yang sempat hilang di Makkah sebelum dikonfirmasi meninggal dunia, Muhammad Firdaus Akhlan, disalatkan di Masjidil Haram, Sabtu dini hari, (23/5/2026), waktu Arab Saudi. Salat jenazah digelar usai salat subuh bersama tujuh jenazah lainnya.

Tim Media Center Haji ikut mengantarkan jenazah dari ambulans menuju area salat jenazah. Petugas membawa jenazah menggunakan buggy car sekitar pukul 03.10, waktu setempat, dan tiba di area salat pada pukul 03.21, waktu setempat.

Firdaus ditemukan dalam kondisi wafat pada Jumat dini hari, 22 Mei 2026, setelah dilaporkan hilang pada Jumat pagi, 15 Mei 2026. Jemaah berusia 73 tahun itu tercatat sebagai anggota kelompok terbang (kloter) JKG 27.

Kepala Biro Humas Kementerian Haji dan Umrah RI, Hasan Afandi, menyampaikan duka cita atas wafatnya Firdaus. “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunannya kepada almarhum dan memberikan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan,” kata Hasan saat jumpa pers di Makkah, Jumat.

Ia juga mengapresiasi berbagai pihak yang terlibat dalam proses pencarian jemaah tersebut. Menurut dia, pencarian melibatkan keluarga almarhum, Konsulat Jenderal RI di Jeddah, otoritas Arab Saudi, rumah sakit setempat, petugas haji, hingga masyarakat Indonesia yang ikut mendoakan.

 

Badal Haji untuk Almarhum

PPIH Arab Saudi memastikan pemerintah akan menyiapkan badal haji bagi almarhum. Petugas haji Indonesia akan melaksanakan badal haji tersebut.

Selain itu, PPIH mengingatkan seluruh jemaah dan petugas agar meningkatkan kepedulian selama berada di Tanah Suci. Petugas meminta jemaah segera membantu bila menemukan jemaah lain yang berjalan sendirian, tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan.

“Jika jemaah tersebut tidak mengetahui arah tujuan atau membutuhkan bantuan, antarkan ke petugas terdekat, pos layanan, atau laporkan kepada petugas sektor dan petugas kloter,” ujar Hasan.

PPIH juga meminta jemaah tidak membiarkan lansia, penyandang disabilitas, perempuan, maupun jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu berjalan tanpa pendamping. Menurut Hasan, kepedulian antarsesama jemaah penting untuk mengurangi risiko tersesat selama pelaksanaan ibadah haji.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya