Liputan6.com, Tangerang: Beberapa pengusaha peternakan ayam di Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, terancam gulung tikar menyusul berjangkitnya wabah misterius. Peternakan PT Legok Mandiri Farm, misalnya. Sejak November 2003, puluhan ribu ayam petelur yang ada di peternakan itu mati. Sedangkan upaya vaksinasi dengan vaksin tipe baru tak mampu menghentikan penyebaran penyakit.
Martin, pengelola PT Legok Mandiri Fram mengatakan, akibat serangan virus ini perusahaan diperkirakan rugi sampai Rp 500 juta. Dia bingung dengan penyakit yang menyerang ternaknya. Menurut dia, dua model vaksin yang biasa digunakan untuk penyakit ende dan tetelo sudah tak mempan.
Lain halnya dengan peternakan berlabel PT Atung Farm. Peternakan ini bisa bernapas dan bertahan dari serangan virus karena menerapkan penjagaan sangat ketat. Caranya dengan membatasi mobilitas kunjungan orang dan kendaraan, termasuk dengan upaya vaksinasi. Walau demikian, tak urung peternakan ini sempat kehilangan 50 persen dari jumlah 90 ribu ayam yang ada.
Pegawai PT Atung Farm, Ardiah mengatakan, pihaknya menerapkan aturan mencelupkan alas kaki ke cairan disinfectant atau obat pembasmi kuman dan menggunakan pakaian kerja khusus saat mengurus ayam. Peraturan ini harus ditaati oleh 40 pegawai PT Atung Farm. Di samping itu, ayam produktif terus diberi suntikan vaksin dua kali selama umur produksi. Vaksin seharga Rp 165 ribu per 1.000 ekor. Menurut Ardiah, dari 40 ribu ekor ayam, PT Atung menghasilkan lebih dari dua ton telur untuk di pasarkan ke Jakarta.
Di tempat terpisah, Menteri Pertanian Bungaran Saragih menegaskan, daging ayam yang dijual di Indonesia aman dikonsumsi karena tak mengandung penyakit flu burung. Demikian halnya dengan daging sapi. Bahkan untuk menyakinkan masyarakat, Bungaran yang didampingi Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan Sofjan Sudardjat di Bogor, Jawa Barat, tanpa ragu memakan daging ayam maupun sapi yang dimasak setengah matang.
Menurut Bungaran, flu burung yang menjadi penyakit endemik di beberapa negara Asia, sampai sekarang belum ditemukan di Indonesia. Pemerintah sendiri sudah mencegah impor produk unggas dan turunannya untuk mencegah mewabahnya flu burung di Tanah Air.
Pernyataan Mentan diamini Sofjan. Dia juga membantah kabar yang menyebutkan ditemukan virus flu burung di Bali dan beberapa tempat lainnya di Indonesia [baca: Flu Burung Mengancam Bali]. Sofjan menduga temuan virus yang mirip flu burung itu diduga berasal dari vaksin yang diimpor secara ilegal yang disuntikkan ke ayam, sehingga ketika ayam yang terserang tetelo diperiksa terindikasi terserang penyakit seperti flu burung.
Sedangkan untuk mencegah masuknya vaksin ilegal yang tak diketahui mutunya, Sofjan mengatakan, pemerintah sudah menunjuk Bio Farma untuk memasok vaksi flu burung. Semua vaksin akan didatangkan paling lambat bulan depan.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)
Martin, pengelola PT Legok Mandiri Fram mengatakan, akibat serangan virus ini perusahaan diperkirakan rugi sampai Rp 500 juta. Dia bingung dengan penyakit yang menyerang ternaknya. Menurut dia, dua model vaksin yang biasa digunakan untuk penyakit ende dan tetelo sudah tak mempan.
Lain halnya dengan peternakan berlabel PT Atung Farm. Peternakan ini bisa bernapas dan bertahan dari serangan virus karena menerapkan penjagaan sangat ketat. Caranya dengan membatasi mobilitas kunjungan orang dan kendaraan, termasuk dengan upaya vaksinasi. Walau demikian, tak urung peternakan ini sempat kehilangan 50 persen dari jumlah 90 ribu ayam yang ada.
Pegawai PT Atung Farm, Ardiah mengatakan, pihaknya menerapkan aturan mencelupkan alas kaki ke cairan disinfectant atau obat pembasmi kuman dan menggunakan pakaian kerja khusus saat mengurus ayam. Peraturan ini harus ditaati oleh 40 pegawai PT Atung Farm. Di samping itu, ayam produktif terus diberi suntikan vaksin dua kali selama umur produksi. Vaksin seharga Rp 165 ribu per 1.000 ekor. Menurut Ardiah, dari 40 ribu ekor ayam, PT Atung menghasilkan lebih dari dua ton telur untuk di pasarkan ke Jakarta.
Di tempat terpisah, Menteri Pertanian Bungaran Saragih menegaskan, daging ayam yang dijual di Indonesia aman dikonsumsi karena tak mengandung penyakit flu burung. Demikian halnya dengan daging sapi. Bahkan untuk menyakinkan masyarakat, Bungaran yang didampingi Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan Sofjan Sudardjat di Bogor, Jawa Barat, tanpa ragu memakan daging ayam maupun sapi yang dimasak setengah matang.
Menurut Bungaran, flu burung yang menjadi penyakit endemik di beberapa negara Asia, sampai sekarang belum ditemukan di Indonesia. Pemerintah sendiri sudah mencegah impor produk unggas dan turunannya untuk mencegah mewabahnya flu burung di Tanah Air.
Pernyataan Mentan diamini Sofjan. Dia juga membantah kabar yang menyebutkan ditemukan virus flu burung di Bali dan beberapa tempat lainnya di Indonesia [baca: Flu Burung Mengancam Bali]. Sofjan menduga temuan virus yang mirip flu burung itu diduga berasal dari vaksin yang diimpor secara ilegal yang disuntikkan ke ayam, sehingga ketika ayam yang terserang tetelo diperiksa terindikasi terserang penyakit seperti flu burung.
Sedangkan untuk mencegah masuknya vaksin ilegal yang tak diketahui mutunya, Sofjan mengatakan, pemerintah sudah menunjuk Bio Farma untuk memasok vaksi flu burung. Semua vaksin akan didatangkan paling lambat bulan depan.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)